Belajar Ekonomi Digital dari Tiongkok

2017-08-10 15:17:49
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Ilustrasi perkembangan ekonomi digital. Indonesia akan membahas ekonomi digital dengan Tiongkok, sekaligus belajar. (Istimewa)

SUDAH saatnya pemerintah untuk belajar bagaimana kembangkan ekonomi digital di Indonesia. Paling mudah bisa belajar dari keberhasilan Tiongkok.

Pemerintah berencana untuk melakukan pertemuan dengan pimpinan Tiongkok. Pada saat bersamaan, akan membahas tentang ekonomi digital. Indonesia sepertinya mau belajar dari Tiongkok, karena berhasil menjadi kekuatan ekonomi dunia dari ekonomi digital.

Indoensia akan mengirim Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Darmin Nasution untuk bertemu pemerintah Tiongkok. Memperkuat hubungan bilateral dalam bidang ekonomi, terutama yang berkaitan dengan bisnis digital.

“Siapkan rencana ke Tiongkok membahas (ekonomi digital). Misalnya, barang UKM diproduksi Indonesia, dijual ke Tiongkok melalui market place, perlakuannya seperti apa?” kata Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rabu, 9 Agustus 2017.

Menurut Rudiantara, pemerintah sudah menyiapkan road map e-commerce. Meliputi logistik, sumber daya manusia, perpajakan, cyber security, hingga perlindungan konsumen. Nantinya akan terhubung dengan penerapan national payment gateway (NPG) Bank Indonesia.

Kebelet pemerintah memperdalam ekonomi digital, terutama ke Tiongkok masuk akal. Berdasarkan studi dari Fletcher School dan Mastercard dalam Digital Evolution Index 2017, yang dipublikasi pada Juli 2017, Indonesia bersanding dengan negara-negara dengan pertumbuhan cepaty dunia internet.

Indonesia masuk dalam kategori kelompok negara Break Out. Yaitu negara dengan tingkat kemajuan digital relatif rendah. Akan tetapi, memiliki kesiapan untuk tumbuh cepat sehingga mudah untuk menarik investor.

Dalam kelompok ini, negara yang masuk, antara lain Tiongkok dan Indonesia, termasuk negara berkembang lain, seperti Brazil dan lain-lain.

Data lain, dari hasil studi  Google dan Temasek, menemukan jumlah populasi pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 19 persen per tahun. Dalam perkiraan dua perusahaan digital ternama ini, pengguna internet akan mencapai 215 juta jiwa sebelum tahun 2020.

Perkembangan pasar daring atau online juga mengikuti pertumbuhan pengguna internet. Selama tahun tahun 2016, pertumbuhan transaksi untuk e- commerce di Indonesia mencapai 36 persen. Besar kemungkinan pertumbuhaanya mencapai US$ 81 miliar sebelum tahun 2025.

 

Serba Digital

Melihat data itu, pemerintah punya mimpi, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.  Bahkan, prediksi Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, ekonomi digital jika digarap maksimal bisa menyumbang sekitar 10 persen atau US$ 50 miliar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2025.

Tengok saja, Beijing, Ibu Kota Tiongkok. Mendapatkan julukan sebagai kota terpandai. Terutama dengan generasi yang melakukan pembayaran tanpa uang tunai. Semua dilakukan melalui pembayaran e-money.

Hasil dari sebuah penelitian, seperti yang dikutip South China Morning Post, belum lama ini,  Konsumen di Beijing menggunakan e-dompet untuk beli sayur di pasar hingga membayar hotel. Survei yang dilakukan di 34 kota tersebut oleh Tencent, bekerjasama dengan perusahaan riset asal Prancis yaitu Ipsos dan Institut Riset Keuangan Chongyang, Universitas Renmin.

digital tiongkok

Dalam survei tersebut ditanyakan kepada 6.500 orang lebih tentang metode pembayaran untuk barang dan jasa. Termasuk bayar makanan ringan, restoran, telekomunikasi dan transportasi. Beijing menduduki posisi puncak untuk penetrasi pembayaran tanpa uang tunai. Diikuti Shenzhen dan Guangzhou di Provinsi Guangdong, serta Shanghai.

Dua kota Guangdong lainnya Dongguan dan Foshan, juga masuk 10 besar. Sekitar setengah dari yang disurvei hanya 20 persen yang menggunakan uang tunai untuk pengeluaran bulanan mereka. Setidaknya 4 dari 10 orang membawa uang kurang dari 100 yuan saat keluar rumah.

Hasil lain dari survei 7 dari 10 responden, berani keluar selama sepekan dengan uang tunai hanya 100 yuan. Sedangkan 84 persen merasa nyaman membayar menggunakan smartphone.

Xiao Yi, salah satu karyawan di Beijing, mengaku kerap kali dalam bepergian tanpa uang tunai. Untuk sarapan hingga makan malam, hanya menggunakan kecanggihan digital. Banyak toko swalayan dan penjual sayur hanya menerima pembayaran melalui e-money.

Dia bahkan berani keliling kota seharian hingga satu pekan tanpa sepeserpun uang tunai. Semua menggunakan nontunai. Dari naik bis hingga kereta bawah tanah.