Kendala Tiongkok Kebut Proyek di Indonesia

2017-09-25 10:15:03
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Tol Solo-Kertosono, salah satu proyek investor Tiongkok. Bisanya investor asing merasakan berbagai kendala di Indonesia, itu menjadikan pembangunan berjalan lambat. (Istimewa)

PEMBANGUNAN infrastruktur melibatkan asing. Namun banyak kendala yang dirasakan, seperti Tiongkok. Itu membuat kesulitan untuk kebut proyek di Indonesia.

China Communications Construction Company Ltd. (CCCC), salah satu pemain asing, memiliki banyak proyek infrastuktur di Indonesia. Hanya saja, perusahaan asal Tiongkok ini merasakan berbagai kendala, sehingga kesulitan untuk kebut proyek.

Hal itu menjadikan beberapa pembangunan infrastruktur berjalan tak sesuai rencana. Investor raksasa asal Negeri Tirai Bambu ini mencatat ada dua kendala utama yang kerap menghambat pembangunan di Indonesia.

Pen Dapeng, Vice President CCCC International, mengungkap kendala yang menjadikan proyek berjalan lambat. Pertama, masalah pembebasan lahan. Ini kerap menghentikan proyek yang sedang berjalan.

“Contohnya jalan tol Kualanamu-Binjai yang hanya berjarak 19 kilometer, tetapi pengerjaannya tujuh tahun. Normalnya bisa dalam dua tahun,” tuturnya seperti dikutip Antara akhir pekan lalu.

Kedua, sambungnya, kerap terjadi pergantian kepala atau pejabat di BUMN yang terkait dengan proyek. Biasanya pergantian itu menjadikan pembahasan dan negosiasi kontrak menjadi molor.

Dia memberikan contoh, perusahaan telah merampungkan 28 master plan untuk pembangunan pelabuhan. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada keputusan dari pemerintah. Pemicunya, besar kemungkinan, karena kerap terjadi pergantian pucuk pimpinan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).  

“Bagi investor, berubah pikiran kalau pejabatnya sering berganti. Kami sudah menghabiskan lebih dari US$ 5 juta untuk studi kelayakan proyek-proyek ini (28 master plan),” jelasnya.

Kendala itu, terus dirasakan perusahaan yang masuk ke pasar Indonesia pada 1996 ini. Proyek CCCC yang sedang berjalan di Indonesia saat ini mencapai US$ 1,2 miliar. Perusahaan ini terlibat dalam beberapa proyek besar, seperti Jembatan Suramadu, di Surabaya, Jawa Timur. Juga pembangunan tol Solo-Kertosono senilai US$ 300 juta.