Pedagang di Glodok, Coba Bertahan di Tengah Era Digital

2017-09-14 16:51:58
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Pintu masuk ke salah satu pusat perbelanjaan. Pedagang di beberapa pusat belanja Glodok coba bertahan di tengah era digital. Ada yang masih hoki, tapi ada juga yang tutup, karena malnya telah sepi. (Oktaviani)

PARA pedagang di Glodok, pusat Pecinan Jakarta, coba bertahan berjualan di tengah gempuran kemajuan era digital. Ada yang gigit jari, ada yang bertahan.

Ahong, salah satu pedagang barang elektronik di Glodok Plaza, masih terlihat sibuk membereskan barang jualan. Ia telah lama berjualan di pusat perbelanjaan Pecinan Jakarta ini. Dia tetap bertahan di tengah gempuran era digital, terutama maraknya perdagangan online.

“Dampaknya memang ada, tapi tidak terlalu signifikan. Penjualan masih lancar sampai saat ini. Apalagi untuk barang-barang elektronik yang saya jual,” tuturnya kepada Indochinatown.com, Kamis, 14 September 2017.

Barang yang dijual, seperti kulkas, dispenser, kipas angin, dan perlengkapan elektronik lainnya. “Banyak konsumen yang pilih akan datang langsung ke toko, daripada beli secara online,” jelasnya.

Begitu juga dengan Felian, salah satu pesaing Ahong di Glodok Plaza. Merasa tren perdagangan online, atau e-commerce, tidak terlalu memengaruhi penjualan, karena terbantu pelanggan tetap. Hanya saja dia berharap pemerintah mengatur antara penjual konvesnional dengan online.

“Saya sudah berdagang di sini sekitar 25 tahun, meneruskan usaha orangtua. Sekarang teknologi semakin berkembang, tentu saya tidak dapat menghindarinya. Semoga pemerintah membuat suatu aturan yang dapat menguntungkan semua pihak,” harapnya.

Kedua warga Tionghoa yang berdagang di Glodok ini hanya sebagian dari yang masih bertahan di tengah gempuran era digital. Di satu sisi, banyak juga yang merasakan dampak dari perkembangan e-commerce.

Merasakan penjualan yang turun, hingga ada beberapa yang sudah tutup. Dulu persaingan yang terjadi antarpusat perbelanjaan yang berjejeran di pecinan itu. Selain Glodok Plaza, ada Pasar Glodok, Harco Glodok, dan Mangga Dua Square.

Tapi kini, persaingan justru terjadi dengan pedagang online. Pedagang di Glodok Plaza mungkin masih hoki, beda dengan tempat lain yang sudah mulai sepi. Pasar Glodok yang paling merasakan dampak dari perkembangan e-commerce.

Keramaian yang dulu menjadi pemandangan setiap hari, menjadi hal langka ditemukan. Beberapa toko tetap buka tanpa adanya pembeli. Pengurangan pegawaipun tak terhindarkan, karena biaya operasional tak mampu dipenuhi.

Mungkinkan sentra perdagangan yang berada di pecinan ini tetap bertahan dalam beberapa era ke depan?