Perang Tarif Impor Tiongkok vs Amerika Serikat

Rabu, 04 April 2018 11:35:17
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Ilustrasi wanita Tiongkok tengah membeli buah di super market. (Istimewa)

Tiongkok menaikkan tarif impor buah dan daging asal Amerika Serikat. Dibalas dengan kenaikkan tarif impor produk teknologi industri hingga medis asal Tiongkok.

JAKARTA – Amerika Serikat dan Tiongkok terlibat aksi saling balas menaikkan tarif impor untuk sejumlah komoditas dari masing-masing negara. Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM), mengumumkan kenaikan tarif impor buah dan daging asal Amerika Serikat masing-masing sebesar 20 dan 25 persen. Kebijakan ini berlaku mulai Senin (2/4). Tindakan ini dilakukan untuk membalas kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menaikkan bea impor baja dan alumunium asal Tiongkok pada Maret lalu. “Ini (kenaikan tarif) merupakan tindakan sah yang diadopsi di bawah aturan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), untuk melindungi kepentingan Tiongkok,” lansir MOFCOM, Minggu (1/4).

Kenaikan tarif impor buah dan daging ini merupakan hasil kajian Komisi Tarif Bea Cukai Tiongkok, meliputi 8 komoditas daging serta 120 komoditas buah-buahan asal Negeri Paman Sam. “Ini sama dengan besaran kenaikan yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap produk baja dan alumunium asal Tiongkok,” terang Komisi Tarif Bea Cukai Tiongkok.

Aksi Tiongkok ini dikecam keras Donald Trump, lantaran nilai 128 produk yang terkena kenaikan tarif impor tersebut mencapai US$ 3 miliar. Tak tanggung-tanggung, Amerika Serikat membalasnya dengan mengumumkan kenaikkan tarif impor terhadap sekira 1.300 produk teknologi industri, transportasi dan medis dari Tiongkok sebesar 25 persen. Kenaikkan ini disampaikan langsung oleh Donald Trump, Selasa (3/4).

Tiongkok pun kembali menyiapkan balasan untuk kebijakan Trump ini. “Kami pasti akan membalasnya dan meminta WTO terlibat dalam penyelesaiannya. Kami tidak ingin perang dagang dengan negara manapun, namun masyarakat harus tahu siapa yang memulai semua ini,” tutur Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat Cui Tiankai, seperti dilansir CNBC International.

Ditelusuri dari berbagai sumber, Presiden Trump mengaku ‘terpaksa’ mengambil kebijakan menaikkan tarif impor, lantaran dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Amerika Serikat. Sementara, Tiongkok mengklaim kebijakan tersebut merupakan penyalahgunaan pedoman yang dikeluarkan WTO.

Saling perang tarif impor ini diyakini tidak lepas dari surplusnya perdagangan Tiongkok ke Amerika Serikat, sementara nilai pedagangan dari Amerika Serikat ke Tiongkok mengalami defisit, dimana tahun lalu nilai defisit perdagangan Amerika dengan Tiongkok mencapai US$ 375,2 miliar. “Subsidi dan kelebihan kapasitas Tiongkok menjadi penyebab utama krisis. Bukannya menargetkan ekspor Amerika Serikat yang cukup diperdagangkan. Harusnya Tiongkok menghentikan praktik perdagangan yang tidak adil, mendistorsi pasar dan merugikan keamanan nasional Amerika Serikat,” kecam Juru Bicara Gedung Putih Lindsay Walters.