Perbandingan Jumlah Triliuner di Indonesia dengan Tiongkok

2017-10-02 14:55:36
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Wang Jianlin dan Robert Budi Hartono, masing-masing sebagai orang paling kaya di Tiongkok dan Indonesia. Perbandingan jumlah triliuner dari kedua negara cukup jauh jaraknya. (Istimewa)

DARI daftar orang superkaya, ada perbandingan jumlah triliuner di masing-masing negara. Termasuk antara Indonesia dengan Tiongkok, compang cukup jauh

Pertumbuhan ekonomi ikut memengaruhi jumlah orang superkaya di setiap negara. Hanya saja, meski sama-sama ekonomi tumbuh, tapi terjadi jarak jucuk jauh. Ini dapat dilihat dari perbandingan jumlah triliuner antara yang ada di Indonesia dengan Tiongkok.

Padahal kedua negara sama-sama mengalami pertumbuhan ekonomi paling bagus di dunia. Dari segi penduduk, keduanya masuk dalam lima besar. Untuk jumlah orang superkaya, perbedaan terjadi sangat jauh.

Berdasarkan sebuah laporan Wealth-X Billionaire Census, Indonesia menempati posisi nomor 22 dari 30 negara yang disruvei. Dari 2.300 orang superkaya per 2016, jumlah triliuner di Indonesia mencapai 22 orang, dengan total kekayaan mencapai US$ 53 miliar atau sekitar Rp  689 triliun.

Adapun Tiongkok menempati nomor 2 dengan jumlah mencapai 249 triliuner, dengan jumlah kekayaan mencapai US$ 670 miliar atau sekitar Rp 8.710 triliun. Jumlah ini masih kalah oleh Amerika Serikat yang berada di nomor wahid dengan jumlah 620 orang.

jumlah triliuner indonesia tiongkok

Sumber: CNBC

Indonesia dan Tiongkok, dalam jumlah orang supertajir mengalami penurunan. Indonesia turun sebesar 12 pesen, dan kekayaan menyusut 11,7 persen, sedangkan Tiongkok hanya turun 4,2 persen dan penurunan total kekayaan 0,7 persen.

Masih menurut sensus tersebut yang dikutip CNBC pada Senin, 2 Oktober 2017, jumlah triliuner dunia lebih dari 2.300 orang.  Secara keseluruhan, sensus mencatat bahwa 2016 adalah tahun tantangan bagi populasi triliuner global.

Jumlah triliuner dunia turun 3,1 persen menjadi 2.397. Kekayaan gabungan mereka juga terpengaruh, turun 3,7 persen atau sekitar US$ 7,4 triliun.

Penurunan global ini terjadi, karena meningkatnya ketidakstabilan geopolitik. Ini menunjukkan kehilangan momentum dalam menciptakan kekayaan baru.