Sepanjang 2017, Tiongkok Menjadi Mitra Dagang Utama Indonesia

Selasa, 16 Januari 2018 14:59:52
Editor : Porwanto | Reporter : Oktaviani
ilustrasi - Hubungan dagang Indonesia dan Tiongkok. (Istimewa)

Badan Pusat Statistik menyebut, Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Indonesia ditinjau dari tujuan ekspor.

Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Indonesia selama 2017. Hal tersebut diungkapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) berdasarkan dari posisi Tiongkok yang menjadi tujuan ekspor maupun sumber impor nomor satu dibandingkan dengan perdagangan antara Indonesia dengan negara lainnya.

“Sepanjang 2017, neraca perdagangan antara Indonesia dan Tiongkok mengalami defisit USD 14,20 miliar,” ujar Suhariyanto, Kepala BPS pada Senin (15/1). Intinya, Tiongkok merupakan importir terbesar bagi Indonesia, sekaligus menjadi negara tujuan ekspor terbesar Indonesia.

Suhariyanto mengungkapkan bahwa pangsa pasar ekspor nonmigas ke Tiongkok mencapai USD 21,32 miliar atau 13,94 persen dari pangsa pasar ekspor selama 2017. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode 2016 yang hanya tercatat sebesar USD 15,12 miliar atau 11,45 persen dari pangsa pasar ekspor.

Selama Desember 2017, ekspor nonmigas terbesar adalah ke Tiongkok yakni USD 2,19 miliar, disusul Jepang USD 1,47 miliar dan Amerika Serikat USD 1,42 miliar. Kontirbusi ketiganya mencapai 38,31 persen.

Adapun impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD 35,52 miliar atau sekitar 26,79 persen dari pangsa pasar impor nonmigas domestik selama 2017. Hal ini menjadi penyebab utama neraca perdagangan antara Indonesia dengan tiongkok mengalami defisit.

Impor China Untuk Indonesia

Tercatat sepanjang Januari-Maret 2016, nilai impor non migas Indonesia dari China sebesar US$ 7,13 miliar.

Rincian barang :

1.    Mesin-mesin | pesawaat mekanik, yaitu senilai US$ 1,76 miliar
2.    Mesin | peralatan listrik, yaitu senilai ‎US$ 1,42 miliar
3.    Besi dan baja, yaitu senilai US$ 470,75 ‎juta
4.    Bahan kimia organik, yaitu senilai US$‎ 276,69 juta
5.    Plastik dan barang dari plastik, yaitu senilai US$ 257,13 juta
6.    Benda-benda dari besi dan baja, yaitu senilai US$ ‎202,98 juta
7.    Pupuk, yaitu senilai US$ 146,09 juta
8.    Bahan kimia anorganik, yaitu senilai US$ 140,43 juta
9.    Kendaraan dan orderdil, yaitu senilai US$ 134,53 juta
10.  Barang-barang yang lainnya senilai US$ 2,15 miliar.