Untung Rugi Perang Dagang Amerika vs Tiongkok

Selasa, 10 April 2018 14:59:21
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS
Ilustrasi kapal pengangkut peti kemas di Pelabuhan Tiongkok. (Istimewa)

Perang dagang Amerika vs Tiongkok justru membuka potensi hubungan dagang baru. Perlu disikapi dengan cermat dan bijak.

JAKARTA – Perang dagang yang dipicu saling menaikkan tarif impor antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, diyakini berbagai kalangan akan memengaruhi perdagangan global dunia. Ada yang terkena dampak negatif, namun ada pula yang mengalami dampak positif dari perang dagang Amerika vs Tiongkok ini.

Menko Perekonomian Indonesia Darmin Nasution pede, dampak perang dagang kedua raksasa perekonomian dunia tersebut tidak terlalu memengaruhi perekonomian Indonesia. Jikapun ada dampaknya, ia yakin tidak selalu negatif.

“Langkah yang diambil kedua negara merupakan lanjutkan dari sejumlah rencana mereka di bidang perekonomian. Yang pasti, perang dagang keduanya bisa memberikan keuntungan positif. Misalnya untuk Indonesia, barang Tiongkok yang masuk ke Indonesia akan semakin banyak dengan harga lebih rendah, ini menguntungkan konsumen,” jelasnya.

Dilansir South Morning China Post, ada juga beberapa negara lainnya yang akan terimbas secara positif maupun negatif akibat adanya perang dagang ini. Misalnya saja ekspor negara-negara Asia yang sangat berpotensi terganggu dan menanggung beban peperangan ini.

Direktur Senior Kedaulatan Peringkat untuk Asia Fitch Ratings Steven Schwartz memaparkan, Korea Selatan, Taiwan, Vietnam dan Malaysia yang mengekspor suku cadang mesin dan komponen alat komunikasi ke China dan kemudian dijual di Negeri Paman Sam, akan terpengaruh kondisi saat ini.

Pun demikian dengan Jepang sebagai salah satu eksportir terbesar di dunia. Ekonom Senior Oxford Economics Tommy Wu menerangkan, Jepang mengalami risiko terdampak lantaran nilai ekspor tahun lalu yang mencapai US$ 700 miliar, kebanyakan diserap di Amerika Serikat dan Negeri Tirai Bambu. Selain mobil, ekspor utama Jepang adalah komputer, peralatan elektroni, besi hingga baja.

Berikutnya yang diprediksi mengalami imbas negatif adalah eksportir micro chip di Korea Selatan, Jepang dan Taiwan. Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi di Tiongkok mengimpor micro chip dengan nilai Rp US$ 200 miliar setiap tahun, dimana eksportir terbesarnya adalah Korea Selatan, Jepang dan Taiwan.

Dikutip dari Financial Times, jika Beijing mengikuti konsesi yang diminta oleh Washington, mengurangi surplus perdagangannya sebesar US$ 100. Kondisi ini dilansir Financial Times bisa dilakukan dengan cara meningkatkan pembelian micro chip asal Amerka Serikat. Setali tiga uang dengan Hong Kong, dimana perang ekonomi ini bisa memengaruhi satu dari lima pekerjaan di Hong Kong.

Sementara itu, di mata Ekonom China pada Danske Bank Markets yang berbasis di Denmark Allan von Mehren menyebutkan, naiknya nilai impor kedelai dari Amerika Serikat akibat perang dagang Amerika vs Tiongkok, menjadi keuntungan bagi negara-negara lain yang memiliki komoditas yang sama. Sebab, dengan dimahalkannya harga kedelai dari Amerika Serikat, Tiongkok akan berpaling ke pemasok lain, misalnya Rusia.