Berawal dari Buku Resep Masakan Tionghoa, Lanjut ke Pekan Budaya Tionghoa di Yogyakarta

Senin, 15 Januari 2018 12:31:21
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Hendro Wibowo
Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta di Kampung Ketandan. (Istimewa)

IDE penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) berawal dari rencana pembuatan buku resep masakan Tionghoa oleh Prof. Murdijati Gardjito.

Penyelenggaraan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) tahun ini, telah memasuki tahun ke-13. Ternyata sejarah penyelenggaran PBTY ini cukup unik. Jimmi Sutanto, Tokoh Masyarakat Tionghoa di Yogyakarta mengatakan, ide ini muncul pada pertengahan 2005, Prof. Murdijati Gardjito, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM berencana membuat buku resep masakan Tionghoa.

“Beliau bukan orang Tionghoa ataupun Tokoh Tionghoa. Hanya dosen biasa. Pada Mei 2005, beliau mengundang kami untuk dimintai pendapat. Beliau pun meminta dukungan ke pimpinan UGM hingga Gubernur DIY. Ada yang mengusulkan kenapa hanya buku resep saja, coba diadakan Pekan Budaya Tionghoa,” kata Jimmi.

Usulan ini baru terealisasi pada 2006. Diketuai oleh Dyah Suminar S.E sebagai ibu Wali Kota Yogyakarta dan sebagai Ketua Pelaksana ibu Murdijati Gardjito. “Tahun 2005 baru berbentuk resep. Jadi, 2006 mulai,” jelasnya.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Fu Qing Yogyakarta ini, Gubernur DIY mendukung Pekan Budaya Tionghoa, karena pada 2002-2003,  Ngarsa Dalem pernah mencanangkan membangun Yogyakarta sebagai city of tolerant. PBTY sesuai dengan idenya tersebut. Karena, tidak hanya menampilkan seni buday Tionghoa saja, tapi seluruh Nusantara.

“Dari awal konsepnya Pekan Budaya Tionghoa di Yogyakarta ini memang untuk seluruh Nusantara. Itu hanya mengambil momentumnya saja saat tahun baru Tionghoa. Kegiatannya ada panggung maupun bazar, tapi apa yang ditampilkan itu sifatnya adalah nasional.” Katanya.

Ketandan dipilih sebagai tempat digelarnya PBTY karena dulu lokasi ini merupakan Chinatown-nya Yogyakarta. Disebut pekan, lanjut Jimmi, karena dulu acara ini hanya berlangsung lima hari. Atas arahan dari Ngarsa Dalem, sejak tahun lalu, PBTY dilaksanakan selama seminggu. “PBTY merupakan kegiatan yang masa penyelenggaraannya paling lama di seluruh Indonesia,” tutup Jimmi.