Cap Go Meh Di Karawang Padukan Budaya Tionghoa - Sunda

Selasa, 13 Maret 2018 14:15:20
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : M Romy
Kirab kolaborasi budaya Tionghoa - Sunda dalam perayaan Cap Go Meh 2569 tahun 2018 di Karawang. (M Romy)

Kolaborasi budaya Tionghoa – Sunda dalam gelaran Cap Go Meh kali ini, diharapkan menjadi penyejuk dan penenang perbedaan di Tanah Air.

KARAWANG – Guna menyemarakkan Cap Go Meh 2569 tahun 2018, Umat Khonghucu Karawang mengadakan kirab kolaborasi budaya Tionghoa dengan Sunda, Minggu (11/3). Kirab kolaborasi budaya ini diadakan oleh Klenteng Bio Kwan Tee Koen dan Klenteng Bio Tjouw Soe Kong.

Sejumlah pejabat dan tokoh agama hadir dalam kegiatan yang disaksikan puluhan ribu masyarakat ini, antara lain Hj. Sinta Nuriyah Wahid, mantan Ibu Negara yang juga istri Presiden ke-4 Indonesia KH. Abddurrahman Wahid (Gus Dur), Kapolres Karawang AKBP Hendy F. Kurniawan, Dandim 0604/Karawang Letkol Arm. Ayi Yossa, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang Okih Hermawan, Ketua Matakin Kota Jambi Darmadi Tekun, Ketua Perkhin Sai Che Tien Jambi Huang Lu Chu.

Joli (kursi tandu) diarak, genderang ditabuh, dan barongsai bergoyang. Tak lupa keragaman dan persatuan Indonesia dijunjung tinggi. Begitu yang tercermin dalam perayaan Cap Go Meh ke 19 di Klenteng Bio Kwan Tee Koen, Jalan Ir H Juanda, Karawang, Jawa Barat, Minggu (11/3/2018). Warga Karawang berduyun-duyun memadati Jalan Tuparev dan Jalan Niaga Karawang untuk menyaksikan kirab cap go meh. Perayaan yang digelar berbarengan dengan ruwat bumi dan kirab budaya itu tidak hanya 70 joli dari klenteng (bio), 60 kelompok Barongsai dan Liong yang ikut ambil bagian kirab tersebut.

Mereka berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Jawa Tengah dan Dayak. Kirab dimulai pukul 13.00 dari Jalan Tuparev, Kertabumi, Niaga, dan kembali ke Tuparev pukul 17.30. Sejumlah Pejabat Negara Ikuti Pawai Cap Go Meh Sementara tamu yang datang lebih dari 1.000 orang.

Ketua Panitia Cap Go Meh 2569 tahun 2018 Oey Yang Yen menjelaskan, Kirab Cap Go Meh yang diadakan merupakan kolaborasi dua budaya yaitu Tionghoa dengan Sunda. “Kegiatan kolaborasi dengan budaya Sunda sengaja digelar. Agar festival cap go meh menjadi spektakuler. Kami juga bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karawang. Ini bukan hanya perayaan masyarakat Tionghoa saja, tetapi juga masyarakat Karawang," paparnya.

Apalagi, lanjutnya, sebelum kirab dimulai akan dilakukan ruwat bumi yang bertujuan agar Indonesia, khususnya Karawang selalu damai, hidup dalam keragaman, saling menghormati, dan selamat melalui tahun ini. "Sementara harapan perayaan cap go meh walaupun mempunyai keragaman dalam agama dan suku, tetapi itu bukan halangan bekerja sama dan bahu-membahu membangun Indonesia," tandasnya.

Sementara itu, Hj. Sinta Nuriyah Wahid mengatakan, Kirab Budaya Cap Go Meh patut disyukuri, karena ciri perayaan persatuan yang harus ditiru. Ia mengatakan, kondisi politik Indonesia saat ini sedang memanas dan membuat kondisi  persatuan negara tidak stabil.

"Hal tersebut terlihat dengan banyaknya ujaran kebencian dan fitnah yang mengancam persatuan bangsa. Harapan saya, kirab kolaborasi budaya Tionghoa dan Sunda dalam Cap Go Meh kali ini menjadi penyejuk dan penenang perbedaan di Tanah Air. Karnaval Cap Go Meh ini harus menjadi momentum, bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang mencintai persatuan," pesannya.