Derita Atlet Catur Gajah di Jambi

2017-09-14 17:15:34
Editor : Azis Faradi | Reporter : M Romy
Cynthia, atlet perempuan untuk olahraga catur gajah, sedang bertanding. Ia merasakan derita sebagai atlet di Jambi, karena tak ada dukungan dari pemerintah dan donatur. Berangkat menggunakan dana pribadi. (M Romy)

MESKI membawa nama daerah dan negara, tapi banyak derita yang dirasakan para atlet catur gajah di Jambi. Tak ada perhatian dari pemerintah!

Cynthia Novera Sari, atlet wanita catur gajah atau xiangqi dari Jambi, berangkat sendiri ke kejuaraan ointernasional di Kamboja. Ini adalah salah satu derita yang dirasakan para atlet, tak ada perhatian dari pemerintah.

Terbang dari Jambi ke Phnom Penh menggunakan pesawat Garuda, menggunakan biaya sendiri, pada Rabu, 13 September 2017. Setiba di kota itu, baru bergabung dengan tim Indonesia yang telah berangkat terlebih dahulu. Untuk mengikuti kejuaraan catur gajah ke-18 tingkat Asia.

Cynthia, nama panggilan sehari-hari, adalah atlet di bawah Persatuan Xiangqi Indonesia (PEXI) Provinsi Jambi. Banyak dikirim mewakili tim putri untuk catur gajah dari pusat. Hanya saja, prestasi dan kemampuannya tak sebanding.

Keberadaan PEXI Jambi tak punya donatur tetap guna mendukung keuangan dan biaya operasional. Merananya lagi, tak dapat dukungan dari pemerintah daerah. Ini membuat pengurus dan atlet catur gajah, atau catur khas Tiongkok ini mati suri.

Padahal, catur gajah di Jambi banyak dijadikan sebagai pelajaran extra kurikuler, tidak hanya di kalangan anak-anak Tionghoa, juga warga lain. Menggemari permainan asah otak ala orang-orang di Negeri Tiongkok.

Bahkan perkembangan xiangqi lebih bagus ketimbang daerah lain. Akan tetapi, tak ada perhatian dari pemerintah dan donatur, membuatnya hanya sekadar sebagai hobi. Mampukah para atlet catur gajah bertahan? Atau ditelan oleh keadaan itu.