Festival Grebeg Sudiro, Akulturasi Budaya Jawa dan Tionghoa

Selasa, 13 Februari 2018 14:44:55
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Masyarakat saat rebutan kue keranjang pada acara Festival Grebeg Sudiro. (Istimewa)

FESTIVAL Grebeg Sudiro merupakan Ikon Imlek di Solo. Acara ini merupakan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa.

Festival Grebeg Sudiro, ikon perayaan Imlek di Kota Solo berlangsung meriah. Gelaran yang menggambarkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa ini salah satu calender of event di Solo. Ribuan orang menyesaki kawasan Pasar Gede, Solo untuk melihat kemeriahan acara tersebut.

Prosesi Grebeg didahului oleh arak-arakan dari beragam kesenian tradisional, seperti Kesenian Soreng Boyolali, seni Hadrah, hingga Bakul Pasar Gedhe dengan kereta dorong yang berisi sayuran. Tak ketinggalan kesenian liong dan barongsai turut meramaikan acara ini.

Dalam prosesi arak-arakan dipanggul gunungan yang melambangkan akulturasi kebudayaan Jawa dan Tionghoa. Bukan hanya gunungan sayuran dan palawija yang menjadi simbol etnik Jawa, tetapi beberapa makanan khas Tionghoa juga menjadi bahan penghias gunungan, mulai dari kue keranjang, cakwe, janglut, hingga bakpao. Yang menarik, berbagai gunungan yang diarak dibentuk menyerupai pagoda,  Tugu Jam Pasar Gedhe, Tugu Monjali dan juga Loji Gandrung.

Ketua Panitia Penyelenggara Grebeg Sudiro Bul Hartomo  mengatakan, acara tahunan ini memasuki usia 10 tahun, tak hanya menjadi ajang bagi masyarakat untuk unjuk potensi kampung, tetapi juga menjadi simbol masyarakat yang toleran, berbaur dalam kebhinekaan.

Setelah iring-iringan itu selesai mengelilingi kawasan Pasar Gede, selanjutnya ribuan warga sudah mulai ancang-ancang untuk mengikuti rayahan dari gunungan yang diarak. Walau hujan, warga tetap menantinya. Hanya dalam hitungan menit, semua gunungan habis jadi rebutan masyarakat.

“Satu hal yang menjadi ikon Grebeg Sudiro adalah rebutan gunungan kue keranjang. Tahun ini kita menyebar 4.000 kue keranjang sebanyak empat kuintal. Dari 4.000 itu, sebanyak 250 kue keranjang digunakan untuk gunungan. Sisanya disebar,” tutup Bul Hartomo.