Festival Grebeg Sudiro, Manifestasi Pembauran di Kota Solo

Selasa, 23 Januari 2018 14:48:31
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Festival Grebeg Sudiro. (Istimewa)

FESTIVAL Grebeg Sudiro, perayaan Imlek yang menjadi salah satu ikon wisata budaya Kota Solo. Festival ini manifestasi pembauran di Kota Solo.

Perayaan Imlek di Kota Solo setiap tahun berlangsung meriah. Perayaan yang menjadi salah satu ikon budaya  Solo adalah Festival Grebeg Sudiro. Festival ini merupakan manifestasi pembauran. Untuk 2018, festival ini akan berlangsung mulai 8 Februari hingga 15 Februari di sekitar Pecinan Solo, Pasar Gedhe, Solo.

Di kawasan tersebut akan dihiasi ribuan lampion dan dimeriahkan dengan penampilan barongsai dan liong. Orang-orang berkostum tradisional Tionghoa dan Jawa berbaur dalam barisan pawai. Tarian kontemporer dari keraton Sultan Solo dan Mangkunegara pun tampil di sepanjang Jalan Sudiroprajan. Pawai pun akan berakhir di Klenteng Tien Kok Sie, depan Pasar Gedhe atau Pasar Agung.

Kata ‘grebeg’ diambil dari bahasa Jawa yang berarti perayaan khusus, seperti kelahiran Nabi Muhammad, Idul Fitri, dan Idul Adha. Setelah pawai berakhir, orang akan memperebutkan gunungan. Perebutan ini didasarkan pada ucapan orang jawa ‘Ora babah ora mamah.’ Artinya, tidak ada usaha, tidak makan.

Sementara gunungan makanan ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat Jawa atas karunia yang dianugerahkan kepada mereka oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Perayaan Grebeg Sudiro di perayaan Imlek merupakan bukti bangsa Indonesia dari semua ras dan kelompok etnis, khususnya di Jawa Tengah hidup dalam harmoni, terlepas dari ras atau agama yang didasarkan pada tradisi saling menghormati. Bahkan, saat mempersiapkan acara ini, baik masyarakat Tionghoa ataupun Jawa bekerja sama untuk mengantisipasi ritual syukur kepada Tuhan dan alam.

Sebagai informasi, kawasan Sudiroprajan terletak di Kecamatan Jebres, Kota Solo, dimana orang Tionghoa dan peranakan telah menetap dan tinggal berdampingan dengan masyarakat Jawa sejak berabad lalu. Tradisi dan budaya mereka telah menyatu dan perkawinan campuran biasa terjadi.