Gagal Paham Terhadap Budaya Tionghoa Lahirkan Kebencian!

Senin, 02 Oktober 2017 16:12:26
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Narasumber dalam disksi budaya Tionghoa di Semarangh. Dari kegiatan ini terungkap gagal paham terhadap budaya menjadi pemicu kebencian terhadap etnis lain. (CHC Saputro)

TERNYATA gagal paham terhadap budaya atau adat istiadat budaya warga Tionghoa telah lahirkan kebencian. Itu terbukti dengan menolak keberadaan patung.

Dalam istilah generasi millennials gagal paham terhadap konsep dalam budaya masyarakat Tionghoa, telah melahirkan sreteotip negatif, prasangka, bahkan ujaran dan lahirkan kebencian. Menolak keras keberadaan patung yang dianggap mulia.

Ardian Cangianto, Pemerhati Budaya Tionghoa, mengatakan konsep kedewaan dengan menghadirkan dalam bentuk patung adalah ciri khas masyarakat Tionghoa. Sarjana Filsafat jebolan Universitas Pariangan ini mengatakan jasa besar, ajaran luhur dan teladan hidup bermoral akan dikenang.

“Misalnya, Kwan Kong, merupakan salah satu figur historis yang didewakan,” ujarnya di sela diskusi bertemakan “Memahami Pemujaan Figur Kwan Kong: Supremasi Cina atau Teladan Moral?” di Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini.

Orang Tionghoa, sambungnya, menganggap orang yang berjasa, tanpa melihat etnis dan asalnya, bisa diangkat sebagai sesembahan. “ Jadi tak melihat etnis, profesi dan hal lahiriah lainnya. Yang terpenting pribadi tersebut meneladankan nilai-nilai yang layak ditiru.”

Dia menekankan, tak heran bila beberapa klenteng di Indonesia memuja sosok non-Tionghoa, seperti Raden Panji Margana, tokoh Lasem, bahkan almarhum KH Abdurrahman Wahid.

Sementara itu Pakar Komunikasi Antar Budaya Universitas Diponegoro DR. Turnomo Rahardjo, menambahkan, warga seharusnya jangan terlalu reaktif, tetapi proaktif dalam pergaulan budaya. Maka perlu untuk melakukan komunikasi budaya.

Sehingga tercipta kehidupan yang harmonis antar etnis dan agama. “Dalam komunikasi antar budaya tak boleh  memaksakan pemahaman yang sama kepada orang lain. Dalam dialog harus menempatkan orang lain dalam posisi kesetaraan, “ ujarnya.

Ahmad Fauzan Hidayatullah, pengajar Resolusi Konflik dan Studi Perdamian, Universitas Islam Newgeri Walisongo, Semarang, mengungkapkan, untuk meminimalkan konflik, orang harus berbuat baik. “Menebarkan kebajikan, bukan jutru menebar kebincian, baik dalam ujaran maupun tindakan.”

Akan tetapi, jika sudah terlanjur ada konflik, proses negosiasi menjadi alternatif yang memungkinkan untuk menyelesaikan. “Konflik sebenarnya hanya masalah perasaan. Jika tidak menganggapnya ada konflik, maka itu tidak akan ada,” katanya mengutip ucapan Mark Twain.