Growing Hope, Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus

2017-11-06 11:54:10
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Growing Hope, Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus. (CHC Saputro)

GROWING Hope merupakan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus yang didedikasikan Yayasan Harapan Masa Depan Lampung.

Para orangtua kerap kesulitan mencari sekolah anak berkebutuhan khusus, seperti disabilitas mental dan autisme. Bagi orangtua yang tinggal di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya kini tak perlu khawatir, karena kini tersedia sekolah yang menangani anak berkebutuhan khusus. Growing Hope nama sekolah tersebut.

Lembaga pendidikan ini berlokasi di Jalan Pulau Buton, Perum Palmsville Residence Blok A 1-3, Way Halim. Growing Hope merupakan bentuk dedikasi Yayasan Harapan Masa Depan terhadap anak berkebutuhan khusus. Sekolah ini tak memandang etnis ataupun agama.

Ketua Yayasan Harapan Masa Depan Lampung Maria Novitawati didampingi Sekretaris Fransisca Kilik mengatakan, yayasan yang berdiri pada 2007 berupaya memberikan pendidikan tepat dan layak bagi anak berkebutuhan khusus melalui layanan khusus.

“Awal berdiri pada 2007 hingga 2011, kami baru melayani terapi. Tetapi karena kebutuhan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini mendesak, sangat diperlukan. Pada 2012 kami membuka sekolah Growing Hope. Memiliki makna tempat menyemai harapan,” urai Maria.

Yayasan yang mempunyai tagline Berbagi kasih dan Pengharapan untuk mereka yang Istimewa ini membuka sekolah dari jenjang  Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama(SMP) dan Sekolah Menengah Atas(SMA). “Growing Hope adalah sekolah dan juga pusat layanan terapi bagi anak berkebutuhan khusus dengan kasus autisme dan disabilitas intelektual,” imbuh Maria.

Fransiska Kilik menambahkan, selain memberikan pendidikan melalui Growing Hope, yayasan juga berupaya menyediakan lapangan kerja bagi anak berkebutuhan khusus. “Kami memiliki target dapat membangun workshop agar dapat menjadi tempat bekerja bagi Anak Berkebutuhan Khusus,” jelas Fransiska.

Program Anak Asuh

Fransiska mengakui Growing Hope kerap menghadapi permasalahan terkait pendanaan, karena 30 persen siswanya tidak dapat membayar biaya sekolah. Sedangkan sekolah yang memiliki 23 orang guru dengan jumlah siswa 50 orang ini membutuhkan operasional yang tak kecil perbulannya.

Untuk itulah, lanjut Fransika, agar sekolah bisa tetap memenuhi kebutuhan siswa, yayasan menggelar program orangtua asuh. Yayasan mengajak siapun yang terpanggil untuk berbagi dan mengambil peran sebagai orangtua asuh bagi  siswa yang tidak mampu membayar biaya sekolah.

“Program ini bersifat sukarela dan tidak mengikat. Growing Hope melayani semua lapisan masyarakat, sehingga siswa yang memiliki latar belakang keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah dapat menempuh pendidikan,” jelas Fransika.

Untuk itu, lanjut, fransiska, kami  telah menyusun  beberapa pilihan program. Good Program Rp.100 rib/bulan,  untuk waktu 3 bulan,6 bulan dan 12 bulan, Great Program RP 250 ribu/bulan, untuk waktu 3 bulan,6 bulan dan 12 bulan dan  Excelence Program Rp 500/bulan, untuk waktu 3 bulan,6 bulan dan 12 bulan.

Untuk para dermawan yang ingin berbagi bisa langsung datang Ke Growing Hope. “Selama ini Growing Hope telah memberikan subsidi bagi anak yang tidak mampu secara ekonomi sebesar 30 persen setiap bulannya,” tandas Fransika.