Membumikan Wayang Potehi

2015-09-27 13:24:40
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Pertunjukan wayang potehi di Pecinan Tambak Bayan Surabaya. (Istimewa)

Di Indonesia jumlah dalang potehi masih sedikit. Padahal, hajatan atau permintaan mendalang potehi dalam waktu bersamaan di berbagai tempat banyak.

Demi menjaga tradisi dan budaya Tionghoa, secara rutin diadakan pertunjukan wayang potehi di kawasan Pecinan Tambak Bayan, Surabaya, Jawa Timur. Kegiatan itu dilakukan etnis Tionghoa sebagai upaya secara terus-menerus memperkenalkan dan membangkitkan kembali kesenian dan kebudayaan Tionghoa di Tanah Air.  Setiap akan memulai pertunjukan, tersedia kertas merah dengan tulisan Tionghoa (kim choa) berjumlah empat, yang digantung di empat sudut tonil, lalu dijumput dalang Sukar Mujiono. Setelah itu kim coa dibakar.

Dalang Mudjiono disebut se hu, langsung undur dari belakang tonil. Begitu juga seorang pemain yang menjadi pembantu dalang (ji jiu) dibarengi tiga pemusik (au tay). Lima orang itu: se hu, ji jiu, dan tiga au tay tergabung Lima Merpati, grup wayang potehi beken di Surabaya. “Meskipun beberapa dalang harus main di luar kota, pertunjukan potehi di Surabaya jalan terus,” ujar Sukar Mudjiono.

Menurut dia, di Indonesia jumlah dalang potehi masih sedikit. Padahal, hajatan atau permintaan mendalang potehi dalam waktu bersamaan di berbagai tempat banyak. “Ini yang disesalkan dengan kurangnya orang yang mau menggantikan posisi kami, untuk belajar wayang potehi,” ujar pria asal Kampung Dukuh Surabaya ini.

Edi Sutrisno, salah satu dalang Lima Merpat, mengaku menerima undangan di berbagai tempat. Menurutnya bermain potehi cukup menyenangkan. “Prinsip kami adalah tiada hari tanpa wayang potehi. Komitmen inilah yang membuat kami senang dan kesenian ini, bisa bertahan sampai sekarang,” jelasnya.

Seperti diketahui, potehi merupakan wayang berbentuk boneka, berwujud manusia dan hewan berukuran 40 centimeter. Masuk ke kotak besar berukuran 100 kali 75 kali 50 centimeter. Adapun alat-alat musik pengiringnya, ada or wu (rebab), dong ko (tambur), sia lo (kendang), tua lo (canang), seruling, terompet, serta song chen (gitar tiga senar).