Mempromosikan Indahnya Keberagaman di Tiongkok Kecil

2017-10-13 14:12:01
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Para peserta Lasem Pluralism Trail. Anak-anak muda ini akan aktif mempromosikan keberagaman yang didapatkan di Tiongkok Kecil di tengah lingkungan sekitarnya. (CHC Saputro)

DEMI mempromosikan indahnya realitas keberagaman di Tiongkok Kecil, maka diadakan kegiatan penelusuran bersama anak-anak muda.

Secara resmi “Lasem Pluralism Trail” dibuka. Sebuah kegiatan untuk mempromosikan bagaimana indahnya praktik keberagaman di Lasem atau Tiongkok Kecil. Sehingga bisa menjadi virus ke berbagai penjuru negeri.

Ellen Nugroho, Direktur Ein Institut, mengatakan, praktik hidup berdampingan dan keberagaman di Lasem, Jawa Tengah, sebagai langkah awal menanamkan tentang kebhinnekaan.

Dari kegiatan ini, sambungnya, peserta yang terdiri dari 10 anak muda asal berbagai daerah itu menyebarkan hal-hal positif tentang pluralisme di lingkungannya.

"Muaranya sepulang dari kegiatan ini peserta bisa menjadi ujung tombak pemupus prasangka. Bisa berbagi dengan masyarakat Indonesia yang lebih besar tentang pluralisme," ujarnya saat membuka “Lasem Pluralism Trail”, Kamis, 12 Oktober 2017.

Sementara itu, pendiri Ein Institut Tjahyadi Nugroho, menambahkan, setelah mengikuti kegiatan ini para peserta seperti lahir kembali. "Mereka (peserta) bisa punya kesempatan untuk memilih," ujar pendiri Asosiasi Pendeta Indonesia ini berpesan.

Doktor Tedi Kholiludin, salah satu pemateri diskusi, mengatakan fenomena mengeksplor Lasem ini sangat tepat. Apalagi kegiatan ini diikuti kaum muda dari lintas agama dan etnis dari berbagai daerah di Indonesia.

"Jadi memotret Indonesia itu tidak hanya dari Jakarta. Bisa melihat Indonesia yang lain. Memandang Indonesia dari Lasem yang dikenal dengan kehidupan multikultururisme yang tumbuh subur," ujar Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama (elSA) Semarang ini.

Pngajar Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim Semarang ini merasa prihatin dengan kehidupan pluralisme di Indonesia.

"Pluralisme di Indonesia masih banyak menghadapi tantangan. Sementara media sosial sebagai pengintai," ujar penulis buku runtuhnya Negara Tuhan ini.