Mengenal Tradisi Tok Panjang Saat Perayaan Tahun Baru Imlek

Rabu, 14 Februari 2018 14:39:19
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Tok Panjang dalam gelaran Pasar Imlek Semawis. (Istimewa)

Banyak nilai dan makna dari Tok Panjang saat perayaan Tahun Baru Imlek. Tidak ada sekat dan pembeda di antara mereka yang melakukan tradisi ini.

SEMARANG – Ada yang unik dan khas dari setiap perayaan Tahun Baru Imlek dalam gelaran Pasar Imlek Semawis (PIS) di Pecinan Semarang, Jawa Tengah. Yakni Tok Panjang atau makan malam perayaan Imlek di meja panjang. Termasuk juga dalam gelaran tahun ini.

Pegiat wisata Semarang Asrida Ulinnuha mengatakan, makan malam penuh kekerabatan dan kehangatan ini, secara harfiah dari Bahasa Hokkian ke Indonesia, ‘tok’ berarti meja.  Maka Tok Panjang berarti Meja Panjang. Tok Panjang pertama kali diadakan pada malam Tahun Baru Imlek 2016.  

“Pada malam itu menjadi perayaan Imlek sekaligus pembukaan Pasar Imlek Semawis (PIS) ke 12. Meja-meja dijejer sepanjang Jalan Wotgandul, Pecinan Kota Semarang. Semua tamu undangan duduk bersama dalam barisan meja yang tak putus. Setiap orang makan hidangan yang sama, tanpa ada pembeda selayaknya sebuah keluarga,” jelasnya.

Wanita yang akrab disapa Ulin ini menuturkan, filosofi dari pelaksanaan Tok Panjang ini menjadi harapan tetap rekatnya persaudaraan di antara warga Kota Semarang yang telah lama ada. Di samping itu, dengan merajut kehangatan secara rutin, dapat mendekatkan bukan hanya yang jauh namun juga menyandingkan pemimpin dengan warganya, atasan dengan bawahannya.

“Seperti pada Pasar Imlek Semawis Tahun 2018 ini, Walikota Semarang  Hendrar Prihadi dan jajarannya membaur dengan masyarakat Semarang menikmati jamuan dalam gelaran Tok Panjang,” imbuh Ulin.

Ia menambahkan, Tok Panjang pada perayaan Tahun Baru Imlek juga menjadi ajang silaturahim dan komunikasi, mengeratkan kalangan dalam kebersamaan dan persaudaraan. Sering terjadi kawan lama yang lama atau kerabat  tak bertemu bisa semeja makan bersama. “Tok Panjang jadi ajang ngudarasa. Berbagi  hidangan Yu Sheng dan penganan lainnya. Yang belum kenal jadi kenal. Yang asing tak menjadi asing lagi.  Pengalaman kultural dan berkah inilah yang tak terhitung harganya,” pungkasnya.