Menggali Pluralisme dari Tanah Tiongkok Kecil

2017-10-10 13:19:19
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Tokoh yang akan ikut menggali pluralisme di tanah Tiongkok Kecil atau Lasem. (CHC Saputro)

MELIBATKAN lintas agama, untuk sama-sama menggali pluralisme yang tercipta di tanah Tiongkok Kecil. Sehingga bisa ditularkan ke masyarakat lain.

Ein Institute Semarang memfasilitasi tokoh lintas agama untuk ikut menggali pluralisme di Lasem, Jawa Tengah atau di tanah Tiongkok Kecil. Penggalian sikap plurasilme yang telah mengakar itu melalui dialog.

Diskusi secara ilmiah itu mengangkat tema “Pluralisme Perdamaian di Rembang, Lasem: Model Indonesia yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa”. Digelar di Pondok Pesantren Kauman, Lasem, pada 14 Oktober 2017.

Ellen Nugroho, Direktur Eksekutif Ein Institut, mengungkapkan tokoh yang ikut menggali kekayaan perbedaan itu dalam rangkaian “Lasem Pluralism Trail”. Ada KH.M.Zaim Ahmad Ma’shoem, sebagai pemuka agama Islam yang konsen terhadap pluralisme di Nusantara.

“Mungkin Pondok Pesantren Kauman ini merupakan satu-satunya di perkampungan yang dihuni masyarakat Tionghoa. Santri-santrinya diajar hidup berbaur bersama warga Tionghoa. Para santri diajarai untuk saling menghormati dan tolong menolong,” tuturnya.

Selain itu, akan ada Ketua Komnas HAM Imdadun Rahmat, Tjahyadi Nugroho, pendeta sekaligus pendiri Asosiasi Pendeta Indonesia.

“Tjahyadi temannya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Mereka bersama pernah menggas kerja kebangsaan, seperti Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu,” tutupnya.