Perdalam Ilmu Mandarin ke Tiongkok

2017-08-08 13:21:06
Editor : Azis Faradi | Reporter : Hendro Wibowo
Penerima beasiswa dan tokoh Tionghoa sebelum pelepasan ke Tiongkok untuk perdalam ilmu Mandarin. (Istimewa)

PENGAJAR bahasa Mandarin di Indonesia masih sangat minim. Maka dari itu diberikan beasiswa untuk perdalam ilmu Mandarin ke Tiongkok.

Jumlah guru bahasa Mandarin di Yogyakarta masih kurang. Pemerintah Tiongkok pun menambah kuota beasiswa, agar semakin banyak yang ikut perdalam ilmu Mandarin. Serta memenuhi kebutuhan tenaga pengajar.

Nicodemus Sanny, Sekretaris Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa (BKPBT) Yogyakarta, mengatakan pada pertengahan tahun ini sebanyak tiga orang dikirim ke Tiongkok. Melalui beasiswa akan belajar Mandarin.

“Mereka mendapatkan beasiswa untuk kuliah 1 tahun di Beijing Chinese Language & Culture College. Selanjutnya 3 tahun di Jinan University Guangzhou. Tempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Keguruan Bahasa Mandarin,” katanya belum lama ini.

Ketiga orang itu adalah Bella Putri lulusan SMAN 1 YK, Tia Harum lulusan SMA Budya Wacana dan Aprilia Hefny lulusan SMA Santa Maria. “Beasiswa meliputi bebas uang kuliah, asrama selama 4 tahun. Dapat  tunjuangan 5.000 yuan per tahun atau setara Rp 10 juta.”

Sebelum berangkat ke Tiongkok, sambungnya, mereka bertiga diwajibkan menandatangani surat kontrak di depan notaris, dengan didampingi orangtua masing-masing.

“Mereka wajib menyelesaikan masa kuliah dengan baik, dan segera kembali ke Indonesia untuk mengabdi jadi guru bahasa Mandarin atau laoshi selama 5 tahun.”

Menurut Sanny, beasiswa yang diberikan itu berasal dari Chinese Overseas Exchange Association, sebuah lembaga milik Pemerintah Tiongkok. Di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2004. Namun, di Yogyakarta baru mulai tahun 2007, karena badan koordinasinya beridiri pada 2006.

“BKPBT Yogyakarta hingga tahun lalu (2016) sudah mengirim 19 orang. Ditambah tahun ini 3 orang, total ada 22.”

Kuota per tahun yang diberikan sebanyak 40 kursi, berlaku sejak 2013, sebelumnya dari 20 kursi. Akan tetapi, pada 2017 ini ditambah menjadi 56 kursi. Tujuannya mengejar target pengajar bahasa Mandarin. Ketiga siswi itu dilepas pada Ahad, 6 Agustus 2017, di saksikan oleh beberapa tokoh Tionghoa.