Potret Tionghoa Miskin di Kalimantan Barat

2017-09-07 13:37:15
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Fu A Lin bersama kedua anak dan istrinya. Berada di depan rumah yang sangat kecil untuk ukuran keluarganya. Ini salah salah satu potret Tionghoa miskin di Kalimantan Barat. (Istimewa)

HIDUP penuh kekurangan, sebuah potret Tionghoa miskin di Kalimantan Barat. Tempat tinggal reot, penghasilannya hanya untuk makan sehari-hari, seperti apa?

Rumah kecil dengan beberapa sekat untuk memisahkan ruang tidur dengan dapur, atapnya dari alang-alang. Rumah itu berada di Kelurahan Pasiran, Singkawang, Kalimantan Barat. Milik seorang Tionghoa miskin, sebuah potret nyata yang berbeda.    

Kehidupan itu jauh dari kesan selama ini, bahwa Tionghoa adalah etnis yang selalu kaya raya, bergelimang harta. Keluarga miskin itu adalah Fu A Lin. Di rumah itu tinggal bersama istri dan dua anaknya.

Pekerjaan sehari-hari kelahiran Singkawang pada 8 April 1969 ini adalah tukang tangki atau medium. Melayani umat atau warga dalam ritual lok tung (meramal). Dari pekerjaan ini penghasilnya tak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Pemeluk agama Konghucu ini hidup penuh kekurangan. Maka wajar jika rumah yang ditempati ukurannya mungil. Meski hidup di tengah kemiskinan, ia tetap tegar menjalankan hidup. 

Nasib yang sama juga dialami oleh Chia Bui Hian, warga Desa Karimunting, Bengkayang. Sehari-hari pekerjaannya sebagai buruh tani. Itupun tak tetap, lebih banyak serabutan. Ia harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya.

Rumah yang ditempati, sama dengan milik Fu A Lin, kecil dan hanya bersekat. Di tempat itu tinggal dengan 4 orang anak dan istri. Upah yang diterima cukup buat  makan sehari-hari, tapi tak ada sisa untuk nabung atau bangun rumah yang lebih layak

Kelahiran 43 tahun yang lalu ini punya mimpi besar yaitu bisa merenovasi rumah, sehingga bisa memberikan kenyamanan kepada keluarganya. Keinginan itu juga sama dengan Fu A Lin, sebagai sesama keluarga miskin.

Kondisi kedua kelurga miskin di Kalimantan Barat tersebut membuat orang tergugah. Alhasil Perkumpulan Tridharma atau Sam Kauw Hwee mencoba beri bantuan dengan meminta bantuan kepada semua orang.

Agar bisa menyumbangkan dananya untuk diberikan kepada keluarga Fu A Lin dan Chia Bui Hian, sehingga mimpi renovasi rumah bisa terwujud.

Kemelaratan yang dialami kedua Tionghoa itu, bukan hal baru, jika kebetulan ke Singkawang atau daerah lain di Kalimantan Barat. Banyak bukti bahwa Tionghoa di sana juga banyak yang hidup dengan kemiskinan.

Di daerah lain juga terdapat warga Tionghoa yang miskin. Tak jauh dari Ibu Kota yaitu Tangerang, banyak terdapat Tionghoa miskin, misalnya di pemukiman Cina Benteng. Sebuah potret bahwa tak semua Tionghoa di Indonesia adalah orang kaya.