Umat Buddha Kulon Progo Gelar Upacara Tribuana Manggala Bhakti

Rabu, 16 Mei 2018 14:01:35
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Upacara Tribuana Manggala Bhakti. (Istimewa)

Upacara Tribuana Manggala Bhakti yang dilakukan umat Buddha Kulo Progo, merupakan perpaduan antara kultur setempat dengan ajaran Buddha.

KULON PROGO – Menyambut Hari Raya Tri Suci Waisak, umat Buddha di Kabupaten Kulon Progo, D.I Yogyakarta yang mendiami wilayah pegunungan Menoreh melakukan upacara unik dan menarik, Tribuana Manggala Bhakti. Kegiatan yang mengangkat tema “Waisak Kulon Progo, Damai Harmoni dalam Kebhinnekaan” ini diselenggarakan di Taman Sungai Mudal, Kulon Progo, Yogyakarta, Minggu (13/5).

Penggagas acara Surahman mengatakan, kegiatan ini diharapkan mampu membuat umat Buddha rukun, damai serta hidup berdampingan dengan penganut agama lain di Kulon Progo. “Karakter harmonis akan mewarnai setiap denyut nadi perjalanan hidup masyarakat yang ada,” katanya.

Lebih lanjut ia menerangkan, Tribuana Manggala Bhakti adalah kegiatan yang religio kultural yang digali dari perpaduan ajaran Buddha dengan kearifan lokal adat dan budaya Jawa setempat. Masyarakat baik Buddhis maupun non Buddhis bahu-membahu menyiapkan upacara adat yang memiliki subtansi dasar kepedulian lingkungan hidup tersebut.

“Lingkungan hidup merupakan tempat bernaung seluruh umat manusia dan bahkan hewan tumbuhan, lingkungan alam adalah area yang universal, dibutuhkan oleh semua pihak, yang tidak memisahkan sekat-sekat sosial dan sentimen primordial. Merawat kohesi sosial akan efektif bila dibangun dari sini, dari wilayah yang menjadi tumpuan bersama, wilayah yang mampu menyatukan perbedaan menjadi indah dan bermakna,” papar Surahman.

Ditambahkan olehnya, di Taman Sungai Mudal, Kulon Progo para umat Buddha melakukan empat aktivitas utama . Pertama, pengambilan air suci waisak atau tirta amerta dengan menggunakan adat Jawa di sumber mata air Taman Sungai Mudal yang terletak tepat di kaki Gunung Kelir jajaran perbukitan Menoreh. Kedua, upacara penanaman pohon penyangga air di berbagai mata air yang ada di perbukitan Menoreh, Kulon Progo berupa pohon Bodhi, Mahoni, Jati, Sengon serta tanaman produktif seperti manggis, durian, matoa, serta pete yang secara simbolik dipusatkan di Taman Sungai Mudal. Ketiga, pelepasan satwa burung endemik Kulon Progo seperti perkutut, kutilang, dan trotokan sebagai ekspresi kepedulian terhadap mantra udara, dan cahaya. Keempat, pelepasan satwa ikan di sungai Mudal serta sungai sekitar lokasi Vihara sebagai wujud ekspresi kepedulian terhadap lestarinya air.