Umat Buddha Menghayati Makna Kebhinnekaan di Bulan Waisak

Rabu, 31 Mei 2017 15:36:11
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Bikhu YM Hemma Dhammo Thera mengajak umat Buddha untuk lebih menghayati makna dari sebuah kebhinnekaan. (CHC Saputro)

Di bulan Waisak, umat Buddha di Lampung mencoba semakin menghayati makna dari kebhinnekaan. Dilakukan di tengah situasi dan kondisi seperti sekarang.

PERAYAAN Hari Raya Waisak 2561 BE (2017) di Vihara Dharma Citra, Bandar Lampung, bertujuan mengajak umat Buddha lebih menghayati kebhinnekaan dan keberagaman.

Umat Buddha di Bandar Lampung baru merayakan Waisak pada akhir Mei 2017, meskipun puncak perayaan pada 11 Mei 2017.

Rini Syamsudin, ketua panitia, mengatakan perayaan tahun ini mengangkat tema “Memahami Kebhinnekaan dalam Keberagaman”. Diisi dengan puja dan berbagai hiburan.

“Meskipun perayaan sekarang, tapi tak mengurangi makna dan hikmat perayaan yang kami gelar. Kami mengambil tema yang sesuai dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

Rini menambahkan, manusia sejak lahir sudah diingatkan dengan makna panca warna Buddha. Yang punya arti tidak ada diskriminasi ras, kebangsaan atau warna kulit.  “Semua makhluk berpotensi mencapai kesucian dan memiliki karakter ke-Buddha-an,“ jelasnya.

Sementara itu, Bikhu YM Hemma Dhammo Thera, mengingatkan, di dunia ini  banyak penghalang dalam berbagi cinta kasih. Misalnya, lobha atau keserakahan. Dosa berupa iri hati dan kebodohan batin.

“Sesorang yang tidak suka melihat orang lain bahagia, artinya orang itu sudah terjangkit penyakit batin,” tutupnya.