Wangandi dan Mutiara, Pasangan Keempat Pernikahan Khonghucu di Klenteng Tjen Ling Kiong

2018-01-11 18:48:14
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Hendro Wibowo
Pernikahan Khonghucu keempat di Klenteng Tjen Ling Kiong. (Istimewa)

PERNIKAHAN Khonghucu terbilang langka. Wangandi dan Mutiara menjadi pasangan keempat yang melangsungkan pernikahan Khonghucu di Klenteng Tjen Ling Kiong.

Sejak Khonghucu dijadikan sebagai agama resmi, hingga kini pernikahan secara Khonghucu masih sedikit. Hingga kini tercatat baru empat pasang yang melangsungkan pernikahan secara agama Khonghucu di Klenteng Tjen Ling Kiong.

Margomulyo, Pengurus Klenteng Tjen Ling Kiong atau Poncowinatan mengatakan, “Sejak Khonghucu dijadikan sebagai agama resmi, pernikahan secara Khonghucu pun dilaksanakan di sini. Namun pernikahan ini sangat jarang dilakukan. Langka. Baru ada tiga kali pernikahan, yakni saya dan istri, adik saya dan pasangan dari Bantul. Wangandi dan Mutiara merupakan pasangan keempat.”

Pemberkatan pernikahan pasangan ini, lanjut Margomulyo, berlangsung di Klenteng yang berada di Jalan Poncowinatan 16, Yogyakarta dan dipimpin oleh Wense Adjie Chandra dari Solo.

Acara dimulai dengan bersembahyang kepada altar Tuhan Allah, altar Kongco Kwan Kong. Dilanjutkan di altar Nabi Kongcu untuk melaksanakan sumpah pernikahan.

Usai memimpin pemberkatan, kepada Indochinatown.com, Wense Adjie Chandra mengatakan, “Pernikahan secara agama Khonghucu memang sangat langka. Di Solo sendiri juga tidak banyak, sebab generasi mudanya tidak ada. Umat Khonghucu sedikit. Bahkan selama tahun 2017 saja, saya cuma memimpin dua kali upacara pernikahan. Kebanyakan malah di luar kota, seperti Semarang, Tuban, Lasem dan  Jogja. Di Semarang sih Khonghucu masih banyak. Tapi di sana kan juga ada rohaniawannya. Kalau ada mempelai dari luar kota meminta saya memimpin upacara, dan di sana ada rohaniawannya, saya selalu bilang ijin dulu. kalo diijinkan baru saya mau,” tutupnya.