Mengenal Rumah Abu Berdasarkan Feng Shui

Kamis, 29 Maret 2018 11:35:06
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Ilustrasi Rumah Abu. (Istimewa)

Penempatan rumah abu pun harus memerhatikan unsur Feng Shui. Berawal dari keterbatasan masyarakat dulu dalam menguburkan anggota keluarganya yang meninggal.

JAKARTA – Feng Shui merupakan ilmu topografi kuno Tiongkok yang mempercayai bagaimana manusia, surga serta bumi hidup dalam harmoni, untuk membantu memperbaiki hidup dengan menerima Qi positif. Dalam kehidupan sehari-hari, ilmu Feng Shui dapat diterapkan dalam berbagai hal, salah satunya penempatan rumah abu (columbarium).

Pakar Feng Shui Indonesia Yulis Fang mengatakan, awal mula adanya columbarium karena pada zaman dahulu banyak masyarakat yang tidak mampu memakamkan keluarganya yang meninggal secara layak.

“Keterbatasan biaya membuat mereka melakukan proses kremasi, meletakkan abunya di dalam guci dan di simpan di rumah abu. Di zaman dahulu, bahkan ada yang menyimpan abu di dalam klenteng atau vihara,” ujarnya.

Ia menambahkan, dahulu yang melakukan proses kremasi adalah pemeluk agama Buddha. Namun seiring berjalannya waktu, kremasi tak hanya dilakukan oleh pemeluk agama Buddha saja, tetapi juga Kristen Protestan dan Katolik. “Alasannya cukup sederhana, proses kremasi lebih prkatis. Jika tidak ada waktu untuk merawat makam, maka kremasi menjadi pilihan terbaik,” katanya.

Ditambahkan olehnya, jika abu tidak ditaruh di rumah abu dan lebih memilih melarungnya ke laut, maka harus dipastikan tidak ada DNA dalam jumlah besar yang tersisa. Seperti tulang, gigi, tengkorak dan lainnya. “Semua harus sudah terbakar menjadi butiran-butiran halus. Apabila masih ada bongkahan besar yang tertinggal, jika terendam air akan membawa kemalangan bagi keturunannya, seperti mudah jatuh sakit,” pungkas pakar Feng Shui ini.