Boedi Krisnawan Suhargo, Setia Menjaga Lingkungan dan Menyejahterakan Petani

2017-04-20 14:56:36
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Boedi Krisnawan Suhargo (Istimewa)

Dengan niat tulus setia menjaga lingkungan dan menyejahterakan para petani. Itulah yang dilakukan Boedi Krisnawan Suhargo dalam sisa hidupnya. Seperti apa?

KEPEDULIANNYA terhadap nasib para petani memang terbilang total. Boedi Krisnawan Suhargo atau Ong Boen Swie, mencoba untuk mengubah mindset masyarakat yang selalu  menganggap, bahwa petani merupakan pekerjaan rendah dan dikonotasikan dengan kemiskinan.

Insinyur Teknik Sipil dari ISTN Jakarta ini memilih berkonsentrasi dalam bidang konservasi tanah kritis, pertanian, serta memberikan pendidikan dan kesejahteraan petani. Untuk mewujudkan kepeduliannya itu, dia mendirikan sebuah laboratorium alam yang diberi nama Vila Hutan Jati (VHJ), dengan motto “Bersama Sembuhkan Bumi” (BERSEMI).

Awalnya, Boedi terlebih dahulu melakukan konservasi tanah kritis di daerah Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Lahan itu sudah kritis dan kehilangan top soil akibat digali terus-menerus.  

Tidak hanya memperbaiki lahan kritis saja, ia juga berusaha memperbaiki pola berpikir para petani yang konvensional menuju pola pikir yang modern. Melalui program tersebut, dia  mulai mengajak penduduk sekitar untuk menjadi mitra dalam menggarap lahannya sebagai petani Tumpangsari.

Selain diajarkan mengolah lahan kritis, mereka juga diajarkan cara membuat kompos, hidup dengan tanaman herbal, menanam padi dengan cara yang benar, dan manajemen pertanian.

Boedi juga mengajarkan kepada para mitranya bagaimana cara menanam padi yang efektif di alam Indonesia, yaitu dengan system of rice intensification (SRI). Sebuah teknik menanam padi yang mampu menghasilkan panen dua kali lipat dibandingkan metode lain yang pernah ditanam meskipun dengan bibit dan pengairan yang lebih sedikit. 

Menurut Boedi, dengan SRI, padi dikembalikan pada sifat asalnya sebagai tanaman darat dan diperlakukan dengan sebaik-baiknya.

“Itulah salah satu bukti dari hasil konservasi lahan kritis menjadi tanah produktif. Untuk mengubah mindset seseorang hanya bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan dan bukti. Cinta kasih itu tidak harus diperlakukan terhadap sesama manusia, tanaman pun harus diperlakukan sama. Pada waktu dipindahin itu harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang, tanaman juga dapat merasakan cinta kasih,” papar Boedi.

Dia menambahkan, di VHJ ada banyak hal yang diajarkan, misalnya mengajarkan penggantian pemakaian pupuk dan pestisida dari produksi pabrik menjadi pemakaian kompos. Hal lain adalah penanganan masa pascapanen, seperti jagung. Jika tidak ditangani dengan baik, jagung akan berjamur dan harganya pun turun.

Untuk itu, Boedi membuat sebuah tempat pengeringan dari plastik UV, dengan rak-rak besi, serta ventilasi yang baik.

Ia berharap apa yang dikerjakan ini bisa menarik pihak lain untuk mau bersama-sama menyembuhkan bumi dan mengubah mindset masyarakat terhadap pertanian.

“Kalau ini dibicarakan bisnis, itu hampir nol bagi saya. Saya hanya ingin banyak orang yang bergabung, banyak orang yang peduli, ya, terutama dari teman-teman relawan. Ribuan lilin cahaya-nya akan lebih terang dibandingkan cahaya satu lilin,” pungkasnya.