Diyah Wara Restiyanti, Pemerhati Bangunan Tua Tionghoa

2018-01-04 12:16:35
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Farid Hidayat
Diyah, Pemerhati Bangunan Tua Tionghoa. (Istimewa)

KEPEDULIAN Diyah Wara Restiyanti pada bangunan tua Tionghoa membuat dirinya mendirikan Kelompok Pencinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara.

Kecintaan dan kepeduliannya terhadap bangunan tua Tionghoa, Diyah Wara Restiyanti mendirikan Kelompok Pencinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara.

“Awalnya saat saya bersama teman sedang berjalan di daerah Glodok melihat sebuah bangunan tua Tionghoa yang terabaikan. Sedih rasanya. Ini yang melatarbelakangi berdirinya Kelompok Pencinta dan Pemerhati Bangunan tua Nusantara,” ungkapnya kepada Indochinatown.com.

Diyah mengatakan, bangunan tua tersebut merupakan bangunan rumah toko peninggalan dari Mayor Tionghoa. Bangunan tersebut memiliki nilai historis dan aristekturnya pun bagus. Disayangkan, tidak ada yang merawat bangunan tersebut, termasuk pemerintah.

“Saya coba langsung menanyakan ke pemerintah, apakah dapat memilihara banguanan tersebut. Saat itu, pemerintah mengatakan tidak ada dana untuk pemeliharaan. Padahal, bangunan cagar budaya ada anggarannya. Keberadaan komunitas ini untuk peduli terhadap bangunan yang seperti itu,” kata kelahiran Jakarta, 14 April.

Komunitas yang berdiri Maret 2013 ini terdiri dari beberapa ahli dibidangnya, seperti fotografi, arkeolog, sejarawan, dan antropolog seperti dirinya. Visi komunitas ini adalah pelestarian bangunan tua, sedangkan misinya adalah mempromosikan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk ikut melestarikan bangunan tua.

Tak hanya peduli terhadap bangunan tua Tionghoa, Diyah pun tercatat sebagai penulis sejarah, antropolog, dan konsultan peneliti. “Siapa lagi yang peduli terhadap bangunan ataupun budaya Tionghoa kalau bukan kita. Ketika kita berbicara Tionghoa, tidak hanya kegiatan budayanya saja, tapi ada jejak budaya dari sisi bangunannya,” urainya.

Satu langkah yang dilakukan Diyah bersama komunitasnya adalah mendata berbagai tempat atau bangunan tua Tionghoa. Seperti, Heritage Talks dan Heritage Conservation.

Heritage talks adalah membicarakan soal pelestarian terus-menerus. Sedangkan, heritage conservation adalah mendorong konservasi bangunan lama, baik revitalisasi ataupun restorasi,” tutur Diyah.

Selain itu, ada pula Fundrising. Kegiatan untuk membiayai operasional Kecapi Batara. Serta, Policy Advocacy adalah advokasi para pembuat kebijakan untuk memonitoring pelaksanaan UU Cagar Budaya dan peraturan lain yang menyangkut bangunan tua.