Grace W Susanto Terpanggil untuk Mengembangkan Budaya Peranakan

2017-10-03 13:29:42
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Grace W Susanto (CHC Saputro)

PROFESINYA adalah dokter, tapi Grace W Susanto terpanggil untuk ikut mengembangkan budaya peranakan. Berbuat di luar jalur utama dalam berkarier.

Nama besar Grace W Susanto dalam dunia kedokteran gigi tak diragukan lagi. Kini dia terpanggil untuk mengembangkan budaya peranakan. Ini didukung oleh kecintaan terhadap dunia seni, yang telah ada dalam tubuhnya.

Dalam dunia kedokteran, nama dokter gigi lulusan Magister Manajemen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini cukup cemerlang, karena berhasil menemukan ilmu terapi gusi.

Kendati demikian, ia punya passion dalam bidang kebudayaan Tionghoa, terutama yang berkaitan dengan seni. Sehingga ingin mendalami lebih jauh, lalu mengembangkan agar dikenal masyarakat luas.

Ia menjalankan kecintaan terhadap budaya dilakukan melalui Klub Merbi, organisasi yang bergelut dengan dunia pendidikan non-formal. Dari lembaga ini dia mengenalkan dan memfasilitasi aktivitas seni, terutama yang berkaitan erat dengan Tionghoa peranakan.

Grace ingin membumikan seni peranakan, percampuran antara Tionghoa dan Jawa. “Saya berusaha mengenalkan batik peranakan dan juga kebaya encim,” ujarnya.

Saking mendalami budaya peranakan, dia paham betul tentang cara pemakaian sarung dan iket ala  Semarang. ”Ada sekitar 20 gaya pemakain sarung Semarang yang sudah saya kreasikan. Kalau ingin belajar dan trampil memakai, datang ke tempat saya.”

Istri dari J Hardono Susanto ini juga masih punya obsesi lain, mengenalkan kuliner peranakan. Ia melihat di dalamnya terdapat  berbagai filosofi. Bahkan dikenal sebagai masakan nusantara, seperti bakso, bakmi, bihun, misoa, dan soun.

Dalam bentuk cemilan juga ada, misalnya kue ku (kura), menyimbulkan panjang umur. Ada Kue Lapis yang melambangkan kehidupan yang berlapis-lapis. Pada minuman pun demikian. Wedang ronde, ada keakraban antara bahan satu dan lainnya.

Pemeran dokter gigi dalam film Lima Kata, Tetapi Bukan Cinta (2o14) ini tak hanya ingin berkarier semata, tapi memberikan pendidikan budaya kepada masayarakat. “Mereka bisa menikmati kuliner tetapi juga tahu tentang proses dan juga sejarahnya.”

“Demikian juga ketika membeli batik, pembeli mendapatkan informasi tentang proses dan filosofi di dalamnya,” pungkas Grace.