Hirwan Kuardhani, Jatuh Hati Dengan Wayang Potehi

2017-11-06 12:26:18
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Hirwan Kuardhani. (Istimewa)

HIRWAN Kuardhani mengenal Wayang Potehi dari sehu atau dalang Potehi, almarhum Tio Tiong Ghie. Saat itulah, dia mulai jatuh hati dengan Wayang Potehi.

Hirwan Kuardhani mulai mengenal Wayang Potehi dari dalang Potehi, Tio Tiong Ghie. Dia mulai menjajal keterampilannya mendalang pertama kali pada acara Asosiasi Tradisi Lisan Nusantara di Jakarta. Mulai saat itulah, lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini jatuh hati dengan Wayang Potehi.

Untuk mendalami potehi, Hirwan melakukan penelitian tentang Potehi yang dituangkan dalam disertasinya. Penelitian yang bertajuk ‘Potehi, Teater Boneka Tionghoa Peranakan di Jawa, Kajian, Bentuk, Struktur, Fungsi Pertunjukan’ ini telah diuji pada sidang Pasca Sarjana UGM pada 2013.

Disela kesibukannya, sebagai dosen Fakultas seni Pertunjukan (FSP) jurusan Teater,  ISI  Yogyakarta dan Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta, Hirwan sempat membuat naskah dan menyutradarai Film Dokumenter ”Sang Maecenas : Giok Sam Permata Potehi yang Terlupakan’ pada (2013).

Kemudian membuat embrio Potehi Gagrag Bau dalam World Puppet Carnival 2013 dengan lakon : Manggalayuda Sie Jin Kwie. Masih banyak kiprahnya dalam memasyarakatkan Potehi agar tetap dikenal dan dicinta masyarakat. Terkini, Hirwan, menggelar pertunjukan Potehi Gagrag Baru dengan mengusung lakon ‘Siluman Ayam Membawa Terang dalam’ pada gelaran Imlek 2017 di Hartono Mall, Yogyakarta.

Dia pun sempat menulis buku ‘Toni Harsono, Maecenas Potehi dari Gudo’  yang mengisahkan tentang sosok Maecenas, Toni Harsono dalam melestarikan pertunjukkan Potehi di Indonesia.

Hirwan berharap dengan adanya Wayang Potehi Gagrag Baru yang akulturatif, menjadi salah satu perekat pergaulan bermartabat suku-suku dan etnis di Indonesia. Kesenian Tiongha yang sudah tumbuh berkembang ratusan tahun di bumi Indonesia tidak dianggap liyan (the other). “Tetapi seni tersebut, salah satunya Potehi yang merupakan seni akulturatif merupakan milik dan bagian dari bangsa Indonesia,” tandasnya.