Karina Lin, Pejuang Odapus Berbagi Cerita Lewat Tulisan

Selasa, 06 Februari 2018 12:26:24
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Karina Lin. (Istimewa)

SEBAGAI pejuang Odapus, Karina Lin ingin berbagi cerita tentang pengalamannya lewat tulisan. Dirinya pun aktif bersama Komunitas Odapus Lampung.

Karina Lin memang kini terserang penyakit lupus, namun semangat untuk berbagi cerita lewat tulisan tak kendor. Karina pun bersama Komunitas Odapus Lampung berjuang untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit lupus.

Passion menulis telah dimiliki kelahiran 17 April 1983. Baginya, dunia jurnalis atau penulis itu keren. “Panggilan hidup saya itu sebagai jurnalis dan penulis,” kata anak pasangan Taju Sin Fung dan Lim Khang Ping alias Herman Salim ini.

Kegemarannya akan dunia penulisan membawa Lulusan Pendidikan Sejarah Universitas Lampung pada 2009 ini kerap mengikuti berbagai perlombaan, baik ilmiah maupun non ilmiah. Karina pun aktif menulis artikel lepas, seperti opini, cerpen dan resensi buku, baik di media cetak lokal hingga media cetak nasional.

Kiprah menulis pemilik hobi membaca, travelling, fotografi, mendengarkan  musik, yoga dan memasak ini kian panjang setelah banyak perlombaan menulis pernah dijajalnya. Seperti Lomba Essay Japan (2006, diadakan Japan Foundation Indonesia), Lomba Essay Korea (2004 dan 2006, diadakan oleh Kedutaan Besar Republik Korea), Lomba Cerpen Majalah Femina (2006 dan 2016), Lomba Cerpen Lip Ice-Selsun Awards (2006), kompetisi menulis sinopsis untuk Short Story Competition (2009, diadakan oleh L.A. Indie Movie), dan lainnya.

Keinginannya menjadi seorang jurnalis pun terkabul. Orang yang dikenal supel dalam bergaul ini pernah bekerja sebagai jurnalis di Radar Lampung pada 2010-2011. “Awalnya saya sering menulis opini. Kemudian saya bergabung jadi wartawannya,” papar Karina.

Pada Juni 2013, Karina bergabung  sebagai jurnalis di Lampung Newspaper (Radar Lampung Group). Berlanjut sebagai jurnalis dan editor di media online duajurai.com pada 2015-2016.

Karina pun tercatat sebagai anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Kota Bandar Lampung. Tulisan-tulisannya juga berserak dalam beberapa buku kompilasi, antara lain, dalam buku bertajuk; Rumah Berwarna Kunyit (Oktober 2015), official book Kepolisian Daerah (Polda) Lampung Bhayangkara Lampung Melintas Badai (April 2016), Secangkir Kopi Bumi Sekala Brak, Jejak Langkah 25 Tahun Kebangunan Lampung Barat (Maret 2017).

Pada 2017, buku tunggalnya yang merupakan buku bunga rampai tulisannya tentang daerah Lampung berjudul Lampungisme: Sosiokultur, Alam, Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai diterbitkan Pusataka Labbrak, Bandar Lampung.

Ketika disinggung mengapa tulisaanya banyak bertopik tentang Lampung dan permasalahannya. "Saya lahir, hidup dan dibesarkan di Lampung. Wajar dong kalau saya berkontribusi untuk Lampung," ujar Karina.

Selain itu, Karina juga, punya minat dalam penulisan sejarah peranakan Tionghoa, seni budaya dan sejarah politik.

Berjuang Untuk Odapus

Melihat aktivitas dan semangat Karina, orang tak bakal tahu kalau dia sebenarnya mengidap penyakit lupus. Untuk itu, Karina juga ikut bergiat di Komunitas Odapus Lampung (KOL).

“KOL ini sebuah komunitas yang mejadi wadah dan support group bagi orang-orang dengan lupus (odapus) yang berdomisili di Provinsi Lampung,” paparnya.

Komunitas ini, lanjut Karina, merupakan wadah bagi penderita lupus (odapus) maupun orang awam, karena banyak orang yang tidak tahu apa itu lupus.

“Saya memang sakit dan tak tahu berapa lama lagi akan hidup. Tetapi dalam kondisi apapun kita harus bermanfaat bagi sesama. Bersama kawan-kawan Odapus kami berencana membuat website untuk ajang sosialisasi,” tutup Karina.