Kisah Bapak Wushu Indonesia IGK Manila Jelang SEA Games 1993

Kamis, 12 April 2018 14:12:32
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Hendro Wibowo
IGK Manila di sela-sela penutupan Kejurnas Wushu Junior-Senior 2018. (Hendro Wibowo)

Pantas jika IGK Manila didaulat sebagai Bapak Wushu Indonesia. Ia yang merintis pengenalan olahraga Wushu ke seluruh Tanah Air di awal era 90-an.

YOGYAKARTA – Sosok tegasnya dengan sifat kebapakan menjadikan pria asli Bali ini mudah dikenal, namanya I Gusti Kompyang Manila atau lebih beken dengan nama IGK Manila. Akrab dengan dunia olahraga, terutama sepakbola, purnawirawan Mayor Jenderal dari korps Polisi Militer ini sejatinya merupakan Bapak Wushu Indonesia.

Ya, IGK Manila merupakan salah satu sosok yang membidani ‘kelahiran’ Wushu di Indonesia, tepatnya saat Pengurus Besar Wushu Indonesia (PBWI) diresmikan bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November tahun 1992. Ia pun didaulat menjadi ketua umum yang pertama.

Sungguh tantangan yang tidak mudah, lantaran Wushu akan dipertandingkan pada pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara SEA Games beberapa bulan kemudian yang dihelat di Singapura tahun 1993. “Pak Manila langsung kerja kilat, menggelar tur sosialisasi dan pengguliran kejuaraan di 27 provinsi agar Wushu semakin dikenal masyarakat,” kenang salah satu atlet Wushu pertama Indonesia Ahmad Idris.

Ada dua masalah yang dihadapinya, dana untuk membeli perlengkapan berstandar internasional, serta pelatih yang qualified. Manila yang saat itu masih berpangkat Kolonel, sowan ke Cendana, menghadap Presiden Soeharto untuk melaporkan permasalahan yang dialaminya, sekaligus mencari jalan keluarnya. Bukan tanpa sebab, Soeharto-lah yang menggagas untuk menjadikan Wushu sebagai sarana persahabatan Indonesia – Tiongkok, usai pemulihan hubungan politik pada Agustus 1990. Sebelumnya, Manila sudah 2 kali terlibat dalam operasi militer yang terkait dengan Soeharto, yakni Operasi Dwikora dan Operasi Ganesha.

“Soeharto hanya manggut-manggut waktu dilapori. Tanpa banyak cakap, The Smiling General itu langsung mengangkat telepon merah, telepon yang hanya dipakai Soeharto untuk menghubungi orang-orang dengan urusan yang sangat penting. Usai menelpon, Soeharto memberi solusi singkat pada Manila. ‘Hubungi Gunung Sahari’, perintah Soeharto. ‘Siap,’ jawab Manila. Gunung Sahari adalah kediaman Liem Sioe Liong alias Sudono Salim. Satu urusan pun beres. Tulis Hardy R. Hermawan dan Edy Budiyarso di biografi IGK Manila: Panglima Gajah, Manajer Juara.

Kini Manila tinggal mencari pelatih wushu berkualitas. Manila pun mengontak Kedutaan Besar Tiongkok. Hasilnya, dua pelatih, Wang Donglien dan Deng Changli pun diboyong untuk menyeleksi 100 calon atlet yang tersaring dari berbagai daerah. Setelah tersaring 14 atlet, kedua pelatih itu lalu menebalkan skill para atlet di disiplin ilmu Taolu selama enam bulan.

“Kita sempat dibawa ke China, tepatnya ke Shanxi. Jadi kita lima bulan pelatnas di Jakarta. Lalu sebulan sebelum SEA Games, kita dikirim ke Shanxi,” kenang Fonny Kusumadewi, salah satu mantan atlet timnas Wushu di SEA Games 1993.

Di sana, mereka lebih mendalami Taolu atau kategori keindahan jurus. Taolu terbagi menjadi nomor tangan kosong dan senjata. Tak berselang lama, 14 atlet Indonesia yang belajar di Tiongkok itu pun mulai bertanding di SEA Games 1993 Singapura. Hasilnya, kalah total!

“Karena kita Indonesia peserta terbaru, persiapan juga hanya enam bulan, dari nol semua. Sementara negara lain persiapannya sudah sekian tahun karena berdiri lebih dulu. Dari 14 yang dikirim, satupun tak ada dapat medali. Tapi kita menyadari waktu itu masih paling bawah,” lanjut Fonny.

Dua tahun kemudian tepatnya di ajang Kejuaraan Dunia 1995 di Baltimore, Amerika Serikat (AS), atlet Wushu Jainab meraih medali perak di kategori Taolu nomor Taijiquan putri. Selanjutnya pada Kejuaraan Dunia Wushu 2007 di Beijing, Gogi Nebulana meraih emas untuk kategori Taolu nomor Jianshu putra.

Kini, buah kerja IGK Manila sebagai Bapak Wushu Indonesia mulai bisa dirasakan. Atlet-atlet Wushu Indonesia kian berprestasi di ajang internasional. Bahkan, Indonesia pernah dipercaya Federasi Wushu Indonesia (IWUF) menggelar Kejuaraan Dunia Wushu 2015 di Jakarta.