Ong Bing Hok, Menjaga Tradisi dengan Rumah Kertas

2017-12-08 15:49:41
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Ong Bing Hok. (Istimewa)

TAK sekadar mencari rejeki, dengan rumah kertas Ong Bing Hok berusaha merawat dan menjaga tradisi leluhurnya.

Zaman boleh berubah. Era kertas bergulir ke era digital. Fungsi kertas beringsut, tergantikan oleh digital. Tetapi, Ong Bing Hok tetap setia bersandar pada kertas. Tak sekadar mencari rejeki, dia yakin jika dirinya memiliki takdir untuk merawat dan menjaga tradisi leluhurnya.

Ong Bing Hok merupakan generasi keempat dari keluarganya yang terus meneruskan usaha keluarganya membuat peralatan sembahyang dari kertas. Usaha yang dikenal dengan Rumah Kertas ini berada di dekat Klenteng Hoo Hok Bio di gang Pinggir, Kawasan Pecinan, Semarang.

Menurut Ong Bing Hok, ritual kaum Tionghoa untuk menghormati para leluhurnya mulai ditinggalkan. Pengiriman rumah kertas dengan berbagai pernak-perniknya sebagai wujud kesempurnaan dengan membakar kertas, kemudian melarungnya ke laut lak lagi dilakukan.

“Sebelum 2000-an, tradisi ini masih kental. Mereka banyak yang mulai meninggalkan ritual dan tradisi ini. Dampaknya sangat terasa bagi usaha rumah kertas. Rumah kertas, uang kertas, pakain dan benda-benda lain yang berbentuk kertas merupakan bagian dalam upacara tradisional untuk penghormatan kepada leluhur. Sembahyang kepada leluhur, setahun dilakukan sebanyak tiga kali. Satu di antaranya dilakukan saat menjelang Hari Raya Imlek,” katanya.

Kelahiran Semarang, 29 Maret 1949 ini mengaku bangga lewat pekerjaannya, selain bisa membuahkan rejeki sekaligus dia juga ikut menjaga dan merawat tradisi leluhurnya. Tak hanya itu, pengrajin rumah kertas untuk sembahyang ini langka. “Terkadang ada yang bisa buat tetapi tak sesuai dengan tata cara sembahyang.”

Alasan ini pula yang membuat Ong Bing Hok tetap bertahan. “Pesanan tak hanya dari Semarang saja, tetapi juga dari berbagai kota di Jawa, bahkan dari luar Pulau. Untuk harga berkisar dari Rp 1 Juta-Rp 10 juta tergantung ukuran dan pernik-perniknya, ” tutup Ong.