Perjuangan Dewi Suryana Raih Predikat Terbaik di NTU Singapura

2017-12-20 16:11:32
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Dewi Suryana Raih Predikat Terbaik di NTU Singapura. (Istimewa)

HIDUP butuh perjuangan. Inilah yang dirasakan Dewi Suryana. Untuk meraih predikat terbaik di NTU Singapura, jatuh bangun dia rasakan.

Jatuh bangun dirasakan Dewi Suryana saat menempuh pendidikan di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Peraih beasiswa dari pemerintah Indonesia ini berusaha mempertahankan prestasinya, bahkan dia meraih gelar terbaik di Fakultas Teknik di NTU Singapura.

“Beasiswa yang saya terima sering terlambat. Apalagi saat awal-awal perkuliahan, bagaimana caranya berjuang untuk bertahan hidup di negeri orang,” ujar Dewi mengingat awal-awal perkuliahan.

Dengan kondisi keuangan keluarganya yang terbatas, keterlambatan beasiswa ini menjadi mimpi buruk bagi Dewi, mengingat biaya hidup di Singapura sangat mahal. Dirinya harus berhemat, sambil menunggu pencairan beasiswa yang kerap terlambat.

Untuk makan sehari-hari, Dewi harus menanak nasi sendiri di kamar kos. Dia hanya datang ke kantin kampus membeli lauk seharga 1 dollar Singapura (sekitar Rp 10.000).  Sebagai manusia biasa, terkadang dia merasa iri dan minder melihat teman-temannya membeli makanan dengan lauk lengkap.

Meski demikian, Dewi tak pernah menyerah. Semua perjuangannya terbukti membuahkan hasil yang memuaskan. Dia lulus pada 30 Juni 2016 dengan predikat terbaik First Class Honours dari jurusan Teknik Material. Prestasi ini tidak main-main, mengingat hanya lima persen mahasiswa yang berhasil lulus dengan predikat prestisius tersebut. Semua diselesaikannya dalam waktu tiga tahun, lebih cepat dibanding rata-rata mahasiswa pada umumnya yang menempuh studi selama empat tahun. 

Talenta dan kepintaran Dewi sudah muncul sejak menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Immanuel, Pontianak. Saat itu, dia mewakili Indonesia di dua lomba sains internasional. Dia berhasil meraih medali perak di International Junior Science Olympiad (IJSO) di Baku, Azerbaijan pada 2009. Dia pun memboyong medali perak dari kejuaraan bergengsi International Chemistry Olympiad (ICHO) di Washington DC, Amerika Serikat pada 2012.

Lahir dari Keluarga Sederhana

Dewi lahir di Pontianak, Kalimantan Barat pada 9 September 1995. Dia tumbuh dalam keluarga sederhana di Pontianak. Ayahnya, Lim Bun Phong, bekerja sebagai seorang tukang elektronik serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Sedangkan ibunya, Lim Hoei Luan, bekerja membantu orang lain berjualan baju atau dodol durian. Keluarga mereka menumpang di rumah milik saudara ayahnya.

Kehidupan serba terbatas tak lantas membuat Dewi menyerah. Justru memotivasinya untuk belajar lebih keras dan mencari beasiswa demi meringankan beban orangtuanya.Tekadnya membawa hasil. Dewi mendapatkan beasiswa sejak menempuh pendidikan di Sekolah Mennegah Pertama (SMP) Immanuel Pontianak.

Memasuki jenjang SMA, Dewi kembali memperoleh beasiswa kelas bergengsi Brilliant Class di SMAK Penabur Gading Serpong. Kelas ini diperuntukkan bagi anak-anak berbakat yang dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang ilmu pengetahuan alam.

Saat duduk di bangku SMA inilah, Dewi perlahan menjadi tulang punggung keluarga. Dia mulai mencari uang dengan pekerjaan sambilan sebagai guru les privat di rumah muridnya di kawasan Bintaro dan Gading Serpong.

Tanpa mengenal lelah, Dewi juga bekerja sebagai pengajar paruh waktu di Wardaya College. Walau tidak seberapa, penghasilannya dari hasil mengajar dapat membantu keluarganya di Pontianak.

Semua kemampuan itu didapatnya dengan belajar secara otodidak. Kegemarannya pada ilmu kimia membuatnya demikian gandrung menekuni ilmu tersebut. Dewi bersyukur karena dianugerahi daya tangkap cepat untuk memahami pelajaran.

Namun, itu saja tidak cukup. Harus ada ketekunan dan semangat kuat untuk mengerti hingga bisa. Di balik seluruh kisah kesuksesan akademiknya, Dewi mengatakan bahwa masa-masa getir dalam keluarganya tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil.