Ronald Sjarif Jadi Simbol Semangat Pelestarian Barongsai di Indonesia

2017-09-08 15:07:05
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Ronald Sjarif (Dok. IndoChinaTown)

KEGIGIHAN Ronald Sjarif tak perlu diragukan lagi. Tak heran bila ia dijadikan sebagai simbol semangat pelestarian barongsai di Indonesia.

Ronald Sjarif, begitu gigih sejak awal Reformasi. Memperjuangkan dan mempertahankan budaya leluhur agar terus bertahan. Banyak yang menjadikan sebagai simbol semangat pelestarian barongsai di Indonesia.

Kelahiran 27 September 1945 ini merupakan pencinta barongsai. Sebagai pemain tulen, sepak terjangnya cukup diperhitungkan sejak Orde Lama. Semasa masih aktif bermain, Ronald banyak unjuk kebolehan di berbagai perkumpulan.

Wong Pak–demikian karib Ronald Sjarif disapa–pernah memainkan barongsai di perhelatan bertajuk “Semalam di Glodok Tempo Doeloe” pada tahun 80-an. Sangat berani, tentunya, mengingat kondisi politik Indonesia pada saat itu.

“Itu sekali-kalinya saya main pada era Orde Baru. Izinnya susah sekali. Sampai akhirnya diperbolehkan walaupun hanya main sebentar dan itu pun di dalam ruangan,” kenangnya.

Setelah barongsai boleh tampil kembali, menyusul dicabutnya Inpres No. 14 tahun 1967 tentang pelarangan barongsai oleh Gus Dur, Wong Pak pun langsung mendirikan Barongsai Ko Ha Hong tanggal 17 Agustus 1999 di Jakarta.

Seiring waktu, pembuktian dan kecintaannya terhadap budaya leluhur semakin terlihat, banyak prestasi yang diraihnya. Paling menakjubkan terjadi pada 10 Desember 2009. Ketika itu diadakan kejuaraan dunia barongsai di Guang Zhao, Tiongkok, dalam rangka peringatan ulang tahun ke-60 Negeri Tiongkok.

Di ajang ini Kong Ha Hong mengalahkan perkumpulan Hun Seng Ken dari Malaysia yang notabene adalah juara dunia bertahan 40 kali berturut-turut.  Ko Ha Hong juga beberapa kali berhasil menjadi juara nasional Indonesia Open.

Ko Ha Hong juga kerap mewakili Indonesia dalam kejuaraan tingkat Asean dan meraih peringkat ke-2. Selain prestasi tadi, Barongsai Kong Ha Hong pimpinan Wong Pak ini juga merupakan barongsai yang pertama kali bisa tampil di Istana Negara.

Saat itu Kong Ha Hong unjuk kebolehan dalam upacara penurunan bendera Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2010.  Di setiap penampilan, selain mempertunjukan atraksi dan kehebatan barongsai Ronald juga tidak lupa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Kong Ha Hong terbuka untuk umum.

Siapa saja yang berminat boleh bergabung dan tidak dipungut biaya sepeser pun. "Anggota kami lintas agama. Jumlahnya 30-an lebih. Yang paling muda berusia 7 tahun," jelasnya.

Pun begitu, dia masih mengalami kendala sulit untuk mempertahankan kadernya bertahan dalam jangka waktu lama.

“Penyebabnya karena banyak orangtua yang kemudian melarang anaknya ikut setelah pelajaran sekolahnya jelek atau badan anaknya jadi lembam karena terjatuh atau terbentur selama latihan. Itulah kesulitan kami sampai sekarang,” tutupnya.