Sony Frans Asmara, Jalan Sunyi Dalang Potehi

2017-11-10 17:11:30
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Sony Frans Asmara, Dalang Wayang Potehi. (Istimewa)

SONY Frans Asmara menapaki jalan sunyi dalang Potehi karena kecintaannya pada wayang tersebut.

Sony Frans Asmara mengaku kalau menjadi dalang wayang Potehi adalah pilihan hidup sekaligus juga tantangan. Kelahiran Jombang, 22 Maret 2017 ini menapaki jalan sunyi dalang Potehi, karena terlanjur jatuh cinta pada wayang Potehi saat dipertama kali diperkenalkan oleh sang ayah. Selain itu, setiap cerita, karakter, dan gelaran wayang Potegi banyak mengandung pesan moral.

Anak pasangan Sesomo dan Suwarni yang asli suku Jawa ini, mulai belajar wayang Potehi sejak di bangku SMP. Sejak duduk  di SMP  dirinya kerap diajak pentas keliling oleh sang ayah. “Saya mulai aktif dan intens belajar mendalang setelah lulus SMP. Guru saya belajar dalang adalah almarhum bapak,” papar Sony.

Bapak tiga putra, yakni Novan Fransa Mahendra (17), Tahta Wayah Juniarta (9), dan Bintang Ladika Putra (7) ini mengatakan, guna mendalami wayang potehi, dirinya kerap membaca buku ataupun sharing dengan dalang potehi lainnya.

Suami Kurniaty ini telah mendalang berkeliling, mulai dari klenteng, gereja, kampus dan pesantren di berbagai daerah, seperti Malang, Cilacap, Pekalongan, Cirebon dan Jombang.

“Kalau di klenteng saya menggunakan bahasa Hokkian dan bahasa Indonesia. Sedangkan di tempat umum lainnya pakai bahasa Indonesia. Dialek, karakter dan logatnya disesuaikan dengan tokoh dan daerah tempat saya pentas,” papar Sony pada Indochinatown.com, belum lama ini.

Saat tak mendalang, Sony kesehariannya bekerja serabutan, namun kebanyakan memberi sentuhan akhir wayang Potehi yang diproduksi Toni Harsono, salah satu Pelestari Wayang Potehi di Gudo, Jombang. “Saya bisa mengecat wayang Potehi. Semacam melakukan finiching,” katanya.

Menurut Sony, kehidupan dalang Potehi yang pas-pasan yang membuat dirinya merasa tertantang untuk meningkatkan permainan dan terus berinovasi. Wayang Potehi tidak hanya sebagai tontonan namun juga hiburan.

“Dalang Potehi harus lebih kreatif dan inovatif. Dalang harus bisa membuat sesuatu yang beda dari Potehi. Dalang harus menyajikan pentas yang menghibur terlebih dahulu. Baru kemudian muatan pesan moral apa yang ingin disampaikan sesuai dengan tema dan tujuan,” urai Sony.

Ke depannya, Sony berharap, pemerintah lebih banyak mengapresiasi wayang Potehi. Pasalnya, wayang Potehi merupakan kekayaan budaya bangsa. Jangan dicurigai ada muatan politiknya. Meski memang wayang Potehi asalnya dari Tiongkok, tetapi kini sudah menjadi bagian budaya Indonesia.

“Wayang Potehi bisa menjadi sarana pemersatu. Buktinya, kini yang jadi dalang tak hanya etnis Tionghoa. Potehi tak membedakan ras, suku dan agama,” pungkas Sony.