Takdir Penyair Tan Lioe Ie

2017-11-29 11:10:15
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Tan Lioe Ie, penyair. (Istimewa)

TAN Lioe Ie ditakdirkan untuk menjadi penyair. Puisi-puisinya diwarnai mitor dan ritual Tiongkok.

Tan Lioe Ie menjalani kehidupannya sebagai penyair dan pemusik. Dia merupakan duta budaya yang tampil pada gelaran Europolia 2017 di Belgia. Puisi-puisinya diwarnai kuat mitos dan ritual Tiongkok.

Kelahiran Denpasar, 1 Juni 1958 ini merupakan penyair pertama Indonesia yang melakukan eksplorasi atas ritual dan mitologi Tionghoa dalam puisi bahasa Indonesia. Buku antologi bertajuk ‘Ciamsi’, beisi puisi ramalan- ramalannya. Walaupun bernuansa etnik kental, puisi-puisinya tetap mempunyai daya pikat bagi kalangan luas.

Karya-karyanya dimuat di suarat kabar nasional dan Internasional. Tan Lio Ie yang kerap tampil dalam program residensi dan acara sastra dunia ini karya-karyanya juga diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Nama Tan Lioe Ie merupakan nama pemberian orangtuanya, Tan Tien Hwie dan Tan Cecilia. Tan adalah nama keluarga dan Lioe Ie dalam bahasa Mandarin berarti enam dan satu yaitu bulan dan tanggal kelahirannya.

Dia tetap memmpertahankankan nama Tionghoa, meski pun  pada masa orde baru ada semacam tekanan untuk mengganti nama etnis Tionghoa dengan nama pribumi.

Yoki, sapaan akrab Tan Lioe Ie ini, pernah kuliah di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas Jakarta tapi tidak sampai tamat, justru berhasil menyelesaikan gelar kesarjanaannya di Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Perkenalannya dengan puisi dimulai saat diminta jadi juri lomba baca puisi yang digelar Sanggar Minum Kopi (SMK) Denpasar untuk kategori juri pembanding dari disiplin lain. Selama tiga hari sampai babak final, berulang kali mendengarkan puisi dibacakan peserta lomba, ditambah pembacaan naskah puisi sebagai juri pembanding, membuatnya merasakan pesona puisi dan semakin hari semakin dekat sama puisi. Dia kemudian membuat puisi dan dipadu musikalisasi, sehingga terlahir musikalitas puisi khas Yoki.

Tak hanya itu, dia pun pernah menjabat redaktur majalah kebudayaan Cak Bali dan menekuni dunia musik sebagai gitaris group band Ariesta. Sebagai penyair, Yoki tercatat banyak menghasilkan puisi yang berkualitas. Di antaranya, buku antologi puisi, ‘Kita Bersaudara’ (1991), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi ‘We Are All One’ (1996) oleh Dr. Thomas Hunter Jr.

Selain itu, buku puisi ‘Malam Cahaya Lampion’ telah mengantarkannya memenangi lomba penulisan sastra buku. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, menjadi ‘Nach Van De Lampionen’ oleh Linde Voute. Buku yang diterbitkan Uitgeverij Conserve ini, memuat 64 puisi yang seluruhnya merupakan karya-karya terbaiknya.

Karya-karya lainnya terdapat dalam buku ‘Catatan Gila’, ‘Perahu Daun’, ‘Mimpi Buruk’. Tak Lagi dalam kumpulan sajak bersama ‘Perjalanan, Taksu, dan The Gingseng.’

Karya-karyanya pun telah dimuat di media massa seperti Bali Post, Horison, Berita Buana, Suara Merdeka, Kompas, Media Indonesia, CAK, Coast Lines (Australia), Bali The Morning (Indonesia–Inggris), Antologi Menagierie 4 (Bahasa Inggris), Utan Kayu Tafsir dalam Permainan, Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Bonsai’s Morning (Bahasa Inggris), Living Together Utan Kayu International Literary Biennale (Indonesia-Inggris, 2005).