Cheng Beng, Pemakaman Tionghoa Jambi Dipadati Peziarah

Jumat, 06 April 2018 15:57:28
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : M Romy
Berdoa di depan altar orangtua. (M Romy)

Menyambangi pemakaman Tionghoa saat Cheng Beng untuk ziarah dan berdoa, sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam oleh masyarakat Tionghoa.

JAMBI - Ribuan warga Tionghoa sejak pagi hari telah memadati  pemakaman Tionghoa di Pal 7.5 yang berlokasi di Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kamis (5/5) pagi. Mereka datang bersama keluarga untuk sembahyang Ceng Beng (Qing Ming) yang tahun ini jatuh pada tanggal 5 April 2018, dengan membawa berbagai perlengkapan sembahyang maupun aneka sesajian kesukaan orangtua dan leluhur.

 Misalnya saja seperti yang dilakukan oleh keluarga besar Sukirman Johan. Sejak pagi hari mereka telah datang ke makam orangtuanya untuk melakukan sembahyang Ceng Beng (ziarah). Sebelum prosesi Ceng Beng dilakukan, terlebih dahulu mereka bersih-bersih nisan dan pelataran makam. Kemudian di atas makam diletakkan kertas sembahyang jenis perak (gin cua) dan emas (kim cua) maupun kertas kuning kecil memanjang. Selanjutnya, di sekeliling makam dikasih bunga-bunga segar yang sengaja di tanam oleh sang ibunda.

Kemudian, ritual Cheng Beng kali ini diawali dengan sembahyang kepada Dewa Tanah, kemudian dilanjutkan dengan sembahyang di depan nisan ayah mereka yang bernama Tju Bun Cheng. Di atas meja nisan tersedia berbagai sesajian kesukaan almarhum Tju Bun Cheng. “Sembahyang kubur merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. Setiap tahun kita sekeluarga melakukan sembahyang di makam orangtua,” ungkapnya, Kamis (5/4).

Sukirman Johan menuturkan, sebagai seorang anak, wajib untuk memberikan penghormatan kepada orangtua (leluhur) kita yang telah mendahului kita. Sebab, mustahil kita bisa ada di dunia tanpa orangtua. “Karena itu, kita pergunakan waktu Cheng Beng ini untuk berbakti dengan melakukan ziarah dan sembahyang,” paparnya.

Menyambangi pemakaman Tionghoa di saat Cheng Beng merupakan tradisi yang kuat dipegang masyarakat Tionghoa sejak ribuan tahun lalu. Selain sebagai wujud bakti, juga ajang untuk kumpul bersama sanak saudara, di luar momen Tahun Baru Imlek.