Dagri Rinpoche Berikan Pengajaran Di Komplek Candi Borobudur

Jumat, 11 Mei 2018 16:59:12
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Dagri Rinpoche. (Istimewa)

Dalam kesempatan pengajaran di Komplek Candi Borobudur ini, Dagri Rinpoche mengupas ajaran Atisha Dipankara di hadapan umat.

MAGELANG – Dagri Rinpoche, seorang guru spiritual asal Tibet mengupas ajaran Atisha Dipankara. Ajaran ini disampaikan pada acara teaching di Hotel Manohara, Kompleks Candi Borobudur, Kota Mungkid, Magelang beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut, Ia membacakan dan mengulas teks pertama dan teks kedua ajaran Atisha yang terdapat dalam teks ‘37 Cara Hidup Seorang Bodhisattva; Ringkasan Tentang Turun Tangannya Bodhisattva’.

Teks pertama, menjelaskan tentang keberuntungan dan sangat berharganya terlahir sebagai manusia dan memiliki tubuh yang sempurna. Dalam ajaran tersebut dijelaskan bahwa terlahir sebagai manusia sangatlah sukar dan sangat langka dibandingkan dengan kelahiran sebagai makhluk lain.

 “Begitu juga memiliki tubuh yang sempurna juga sangat sulit, oleh karena itu kita sebagai manusia hendaknya bersyukur dan memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan makna dan manfaat kehidupan bagi orang lain bahkan makhluk hidup lain,” paparnya.

 Dalam ajaran Atisha, lanjutnya, ditunjukkan bagaimana cara menyeberangi lautan samsara, yaitu dengan praktik cinta kasih dan kasih sayang, melakukan meditasi yang berkesinambungan, dan melaksanakan praktik bodhicitta.

 Sebagai poin penting betapa beruntungnya menjadi manusia, ia menjelaskan perbandingan dengan makhluk lain. “Kehidupan selain manusia, misalnya hewan, kehidupan yang tidak punya kesenangan dan kesempatan. Namun demikian di dunia ini juga sedikit manusia yang mempunyai kesenangan dan kesempatan untuk belajar dan praktik,” jelasnya.

 Pada teks kedua berisikan tentang belenggu atau halangan yang menghambat seseorang untuk praktik Boddhicitta. Kemelekatan, kebencian, dan kebodohan/kegelapan batin adalah belenggu praktik boddhisattva.

“Ketika seseorang merantau atau berada di lingkungan yang berbeda akan lebih mudah untuk melatih praktik boddhicita. Hal ini karena secara perkenalan, dengan orang-orang di perantauan tidak begitu dekat, sehingga akan semakin kecil kemungkinan tumbuh kemelekatan dan kebencian. Namun tidak bisa diartikan bahwa seseorang harus merantau atau menjauhkan diri dari tempat asal mereka ketika bertekad praktik bodhicitta. Ini hanya untuk mempermudah bagi para pemula,” pungkas Dagri Rinpoche menutup pengajarannya di Hotel Manohara, Kompleks Candi Borobudur, Kota Mungkid, Magelang.