Festival Dongzhi, Wedang Ronde Dan Tradisi Kumpul Keluarga

Jumat, 13 April 2018 15:20:09
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Ilustrasi pembuatan Onde sambut perayaan Festival Dongzhi. (Istimewa)

Saat Festival Dongzhi tiba, keluarga di Tiongkok maupun di perantauan ‘wajib’ membuat dan menyantap Wedang Ronde saat kumpul bersama.

JAKARTA – Festival Dongzhi Festival Dongzhi atau perayaan musim dingin adalah satu dari perayaan penting masyarakat Tionghoa yang dirayakan pada siklus Dongzhi. Orang Tiongkok membagi musim dalam satu tahun kedalam duapuluh empat siklus. Dongzhi merupakan siklus ke-22, dimulai pada saat matahari berada pada posisi 270° dan berakhir pada posisi 285° yang biasanya jatuh pada tanggal 22 Desember kalender masehi. Lantas, apa hubungannya dengan Wedang Ronde?

Awal mula perayaan ini berdasar pada filosofi Yin Yang, keseimbangan dan harmoni dalam alam semesta. Setelah hari perayaan, maka siang hari berangsur-angsur menjadi lebih panjang sehingga energi positif juga mulai mengalir masuk. Ketika siklus Dongzhi dimulai, pancaran sinar matahari akan terasa lebih lemah dan siang hari berlangsung lebih singkat.

Festival ini kali pertama dihelat pada masa Dinasti Han (206 SM-220 M) dan berlanjut hingga Dinasti Tang dan Song (tahun 618-1279). Bangsa Han memperingati awal musim dingin ini sebagai Festival Musim Dingin dengan berbagai perayaan yang meriah. Hari pertama musim dingin menjadi hari libur nasional. Pada masa dinasti Tang dan Song, perayaan awal musim dingin ini dilengkapi dengan upacara penghormatan bagi para dewata dan leluhur. Kaisar akan berdoa kepada para dewata, sementara rakyat umumnya berdoa bagi arwah para leluhur. Pada masa dinasti Qing (1644-1911) perayaan ini bahkan dianggap sama pentingnya dengan perayaan musim semi.

Datangnya siklus Dongzhi ini oleh masyarakat Tiongkok dianggap sebagai hari terakhir masa panen, dirayakan dengan reuni keluarga pada malam hari yang lebih panjang dari biasanya sambil menyantap Tangyuan berwarna merah muda dan putih berkuah manis sebagai lambang keutuhan keluarga dan datangnya rejeki bagi mereka. Dalam bahasa Indonesia, Tangyuan disebut juga Wedang Ronde.

Wedan Ronde atau onde dalam festival ini biasanya dibuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola-bola kecil, lalu direbus dan disajikan dengan kuah manis. Tangyuan pertama kali direbus dalam air kemudian disajikan dengan kuah sup. Tangyuan yang diberi isi manis disajikan dengan kuah jahe. Sedangkan Tangyuan yang tidak diberi isi juga disajikan sebagai makanan penutup berupa sup manis. Di daerah Kanton dikenal sebagai Tongsui.

Tangyuan dibuat dengan warna-warna yang cerah, masing-masing anggota keluarga mendapat setidaknya satu bola Tangyuan berukuran besar disamping beberapa lainnya yang berukuran kecil. Tangyuan ada yang tanpa isi, ada juga yang diisi kacang tanah tumbuk atau selai kacang merah. Tangyuan dihidangkan bersama dengan kuah manis dalam sebuah mangkuk. Tradisi perayaan ini lebih dikenal dengan sebutan Perayaan Onde.

Secara turun-temurun, Festival Dongzhi ini menjadi saat berkumpul bagi seluruh anggota keluarga. Kegiatan utamanya, yaitu membuat dan menikmati Tangyuan atau Wedang Ronde.