Gereja Katolik Santa Maria de Fatima, Gereja Nuansa Oriental Sambut Natal

2017-12-22 10:14:10
Editor : Porwanto | Sumber : Farid Hidayat
Gereja Santa Maria De Fatima di Glodok ini lebih banyak dikunjungi umat Katolik etnis Tionghoa. (Dok. IndoChinaTown)

Gereja tua ini bernuansa oriental. Jelang Natal, Gereja Katolik Santa Maria de Fatima berhias dan mengatur sistem perparkiran di luar area.

Gereja tua ini bernuansa Tiongkok. Sekilas mirip rumah tua konglomerat Tionghoa tempo dulu. Tampilan luar yang khas Tiongkok tampak pada desain atapnya. Melengkung mirip ekor walet.

Gereja Katolik Santa Maria de Fatima, namanya. Lokasinya di Jalan Kemenangan III, kawasan pecinan Glodok, Jakarta. Gereja tersebut berdiri di tengah pemukiman padat penduduk.

Ketika Indochinatown bertandang ke sini, pengurus tampak melakukan bersih-bersih. Hampir setiap sudut gereja tampak hiasan Natal. Tampak pohon Natal besar diletakkan di samping pintu merah khas Tiongkok.

Beberapa tempat parkir di luar gedung sudah diatur. Misal, mobil dan motor masuk melalui gerbang Sekolah Ricci. Keluarnya melalui gerbang Ricci. Hal ini diberlakukan satu jalur. Tujuannya agar kegiatan Natal teratur.

Sejarah Gereja

Bangunan yang berdiri sejak 1850 ini kental nuansa Tiongkok. Terdapat altar berdiri kokoh di tengah. Kayu merah berlapis emas menambah suasana orientalnya. Di belakang altar terdapat tempat penyembahan leluhur, ada sebuah kotak kecil yang juga dihiasi emas.

Berbicara soal sejarah, Pastur Antonius Suhud Budi SX menjelaskan, awal berdiri namanya Gereja Toasebio. Kemudian berubah menjadi Gereja Katolik Santa Maria de Fatima. Kini, gereja tua ini masuk Paroki Toasebio, bagian dari Keuskupan Agung Jakarta.

Pada masa awal, gedung tersebut merupakan rumah milik konglomerat Tionghoa. Lalu, tanah itu dibeli oleh Pater Wilhemlmus Krause van Eeden yang digunakan untuk membangun gereja, asrama, dan sekolah khusus untuk Hoakiauw atau China perantauan.

"Di tahun 1954, misa pertama menggunakan bahasa Indonesia, menarik sekitar 20 umat untuk beribadah. Kemudian, di minggu berikutnya ada misa khusus bahasa Mandarin yang membuat pengikutnya semakin banyak," jelasnya.

Kemudian misa berbahasa Mandarin semakin banyak diikuti di tahun 1955, kala itu Chao Min memberikan Liturgi di hari Minggu dan hari besar lainnya. Pelayanan Liturgi tersebut juga menghadirkan partisipan dari 50 pelajar di asrama RICCI Youth Centre.

"Namun, di tahun 1961 sejak yayasan diambil alih, setelah Pater Cheng pindah ke Taiwan, asrama tidak lagi menerima siswa. Alhasil jumlah umat semakin menyurut bahkan mencapai angka enam di tahun 1962," jelasnya.

Pater Leitenbauer kemudian mendirikan sebuah perkumpulan Santa Maria De Fatimah di tahun 1966. Bertujuan membantu paroki dalam menyebarkan agama dan sifat kasih terhadap Tuhan tanpa memandang latar belakang paroki.

Namun, kegiatan hanya berlangsung hingga tahun 1978, dikarenakan di tahun 1959 tak ada lagi anak yang memahami bahasa Mandarin karena pemerintah melarang adanya bahasa Mandarin.

"Namun, sekarang aktivitas gereja sudah berjalan seperti biasa, dan gedung bangunan juga sudah dipatenkan pemerintah DKI Jakarta agar tetap melestarikan cagar budaya," pungkasnya.