Karena Wushu Bagian Dari Budaya Tionghoa, Bukan Bela Diri Semata

Selasa, 10 April 2018 10:48:28
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Ilustrasi Wushu. (Istimewa)

Sebagai bagian dari budaya Tionghoa yag sudah berusia ribuan tahun, Wushu juga mengajari kearifan olah pikiran, pernafasan, sikap, hingga kesehatan.

JAKARTA – Wushu merupakan salah satu komponen penting dalam warisan budaya Tionghoa yang terlah berumur ribuan tahun. Sebagai seni beladiri yang berasal dari Tiongkok kuno, Wushu lebih populer dengan sebutan Kungfu. Padahal, secara arti keduanya berbeda.

Dalam Bahasa Tionghoa, Wushu berasal dari dua suku kata, yakni ‘Wu’ yang berarti ‘Ilmu Perang’, serta ‘Shu’ yang berarti ‘Seni’. Sehingga Wushu bisa diartikan Seni Untuk Berperang atau Seni Beladiri. Sementara, Kungfu sendiri memiliki arti “Ahli Dalam Bidang Tertentu’, bukan terbatas dalam bela diri. Kendati sulit menelusuri asal mula tersebarnya Wushu, namun diketahui Wushu menyebar luas melalui Hua Ren, ahli Wushu yang merantau ke berbagai belahan dunia.

Di dalam wushu, kita juga mempelajari seni, olahraga, kesehatan, beladiri dan mental. Mempelajari Wushu tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berhubungan dengan gerakan fisik dan kekerasan saja, tetapi juga melibatkan pikiran. Mempelajari Wushu berarti kita juga belajar mengolah pernafasan, memahami anatomi tubuh kita dan juga mempelajari ramuan atau obat-obatan untuk memperkuat tubuh maupun untuk pengobatan. Selain itu, berlatih Wushu juga akan melatih kita untuk lebih disiplin, cerdas, waspada, percaya diri, berjiwa kesatria, persaudaraan dan lain sebagainya.

Untuk diketahuti, semua kategori seni beladiri tradisional yang menjadi bagian dari budaya Tionghoa, baik keras maupun lembut, dapat disebut sebagai Wushu. Termasuk di dalamnya Tinju Selatan Nanquan, Tinjung Panjang Changquan yang termasuk dalam Wushu keras. Serta Tinju Taiji, Telapak Baguazhang dan Tinju Xingyiquan yang termasuk Wushu lembut. Terakhir, adapula seni beladiri Wushu yang dikembangkan oleh masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, disebut dengan istilah Kuntao.