Kemegahan Pagoda Tian Ti Kenpark Surabaya Tandingi Temple of Heaven Tiongkok

2018-01-08 15:47:34
Editor : Utami Sulistiowaty | Sumber : DBS
Pagoda Tian Ti Kenpark Surabaya. (Istimewa)

PAGODA Tian Ti Kenpark Surabaya sengaja dibuat lebih besar dan lebih tinggi dari Temple of Heaven di Tiongkok. Aksesori hingga ornamen mirip aslinya.

Ingin melihat Temple of Heaven China? Anda tak perlu jauh-jauh ke Tiongkok. Cukup ke Kenjeran Park (Kenpark) Surabaya. Karena, dilokasi tersebut terdapat ikon baru, Pagoda Tian Ti (langit-bumi) atau juga disebut Sky World.

Replika karya Soetiadji Yudho, Bos Kenpark dan Sanggar Agung ini terletak tak jauh dari Kya-Kya Sea Side, yang dipenuhi lampion. Kita juga bisa berjalan kaki melewati kya-kya baru yang disebut Kya-Kya 12 Shio. Kehadirian replika Temple of Heaven China ini membuat Kawasan wisata Kenpark semakin kental dengan nuansa Tionghoa.

Soetiadji mengatakan, pembangunan Pagoda Tian Ti merupakan sebuah kebutuhan, karena dia memiliki komitmen untuk melestarikan nilai-nilai budaya Tionghoa. Agar bisa dinikmati dan diapresiasi orang banyak.

Selama ini, lanjutnya, banyak orang terkagum-kagum dengan pagoda tua di Beijing yang dikenal dengan Temple of Heaven. Bahkan, pagoda tersebut menjadi bangunan cagar budaya dan memiliki nilai sejarah di Tiongkok.

“Saya bangun persis dengan di Beijing tapi lebih luas. Ruang dalamnya kosong, tidak ada patung dan sejenisnya,” kata Soetiadji.

Gedung bundar itu berdiameter 60 meter dengan tinggi 58 meter. Ukurannya sengaja dibuat lebih besar dan lebih tinggi daripada yang di Beijing. Tapi pagoda ini sangat mirip aslinya, terutama pada aksesori, ukiran, ornamen, fisik gedung, dan warna kuil.

Konstruksinya pun dibuat dari baja, sedangkan aslinya terbuat dari kayu. “Banyak keterbatasan saat membuat, tetapi kami buat semirip mungkin. Konsep yin yang dan fengsui yang menjadi lambang keseimbangan juga dihadirkan. Simbol kerajaan berupa naga dan phoenix juga disajikan di semua relief bangunan. Bahkan, di sisi bawah terdapat lima naga sebagai perlambang empat penjuru arah angin dan satu naga menjadi pilar bangunan,” tutup Soetiadji.