Makna Cheng Beng Bagi Walikota Singkawang

Selasa, 03 April 2018 10:10:26
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : Oktaviani
Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie saat melakukan sembahyang Cheng Beng. (Istimewa)

Selain untuk melakukan sembahyang arwah orangtua dan leluhur, Walikota Singkawang memanfaatkan momen Cheng Beng untuk berkumpul bersama keluarga.

SINGKAWANG – Cheng Beng atau Qing Ming merupakan salah satu perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa untuk menziarahi makam orangtua dan para leluhur. Tradisi sembahyang Cheng Beng yang setiap tahunnya jatuh pada Bulan 2 Penanggalan kalender Imlek ini, hingga kini masih terus dijaga dan dilestarikan sebagai sebuah tradisi turun temurun di berbagai negera di Dunia, termasuk Indonesia, dan juga Kota Singkawang yang masyarakatnya mayoritas Tionghoa. Tradisi ini juga dipegang teguh oleh Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie dan keluarganya.

“Dalam kebudayaan Tionghoa, ada dua kali momen sembahyang yang ditujukan untuk menghormati dan mengungkapkan pernyataan bakti kepada leluhur, orangtua maupun kerabat keluarga yang telah meninggal, yakni sembahyang Cheng Beng dan sembahyang Ulambhana yang ditujukan kepada arwah yang tidak disembahyangi oleh pihak keluarganya,” katanya.

Bagi Tjhai Chui Mie, momen sembahyang Cheng Beng bukan hanya tradisi ritual tahunan, tetapi juga dimanfaatkan untuk berkumpul bersama sanak saudara dan kerabat keluarga yang berada di perantauan.

“Cheng Beng selain sebagai wujud pernyataan bakti kepada orangtua dan leluhur, juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antar sesama anggota keluarga dan juga sesama teman satu daerah. Kegembiraan berkumpul yang jarang terjadi karena kesibukan tugas dan kegiatan masing-masing, dimanfaatkan pada saat sembahyang Cheng Beng ini. Untuk itu, kesempatan berkumpul bersama keluarga pada moment sembahyang Cheng Beng ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, sehingga tradisi budaya ini, dapat terus tumbuh dan berkembang sepanjang masa,” paparnya.

Walikota ke-3 Singkawang ini menambahkan, Cheng Beng merupakan momen sembahyang wajib, oleh karena itu ia bersama seluruh anggota keluarga selalu berkumpul di makam kedua orangtua dan leluhur, untuk menyampaikan pernyataan hormat dan bakti dengan memberikan sesaji makanan, menyalakan lilin, dan dupa, serta membakarkan kertas sembahyang, ditutup dengan makan bersama di depan makam orangtua dan leluhur.