Makna di Balik Warna Merah dan Emas dalam Budaya Tionghoa

2017-10-18 14:02:02
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Ilsutrasi pemakaian warna merah dan emas. Kedua warna memiliki makna yang dalam bagi kehidupan dan budaya masayarakat Tionghoa. (Istimewa)

SEBUAH makna mendalam dari pemakaian warna merah dan emas dalam budaya Tionghoa. Simbol keberkahan dan kemakmuran dalam kehidupan.

Sejak dahulu, telah lazim penggunaan warna merah dan emas sebagai identitas masyarkaat Tionghoa. Bahkan itu telah menjadi bagian budaya yang sangat melekat dengan kehidupan. Penggunaan kedua warna itu, ternyata mengandung makna yang dalam.  

Terutama dalam kehidupan. Warna merah, misalnya, berdasarkan berbagai sumber, digunakan  masyarakat Tionghoa sejak 2000 tahun yang lalu, sebagai pembawa nasib baik. Melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran.

Tak heran merah atau hong dalam bahasa ibu Tionghoa, digunakan dalam berbagai acara kebahagiaan. Dijadikan sebagai warna untuk sampul angpau, kotak hadiah, lampion dan lain-lain. Semua benda itu berkaitan dengan harta, maka digunakan merah sebagai warna utama.

Penggunaannya tak sebatas benda-benda seperti itu, juga untuk rumah, dan klenteng. Rata-rata, klenteng yang dibangun, selalu didominasi oleh merah. Begitu juga pada hari-hari besar, tahun baru Imlek, Cap Go Meh, Mooncake Festival, dan lain-lain.

Pemakain warna merah, bukan sembarangan, karena dalam upacara kematian, atau pada saat berduka, dilarang menggunakan warna tersebut. Menurut keyakinan Tionghoa, itu kurang baik dan membuat hidup kurang beruntung.

Baik masyarkat tradisional ataupun modern, masih menetapkan warna merah sebagai simbol utama untuk keberuntungan.

Begitu juga dengan warna emas atau kuning. Dulu, warna ini kerap digunakan untuk identitas kaisar. Sehingga dianggap membawa keberuntungan dalam kehidupan. Bagi masyarakat Tionghoa, kuning merupakan warna paling indah. Mengandung netralitas, sehingga menghasilkan yin dan yang.

Jubah kaisar, altar, kuil, juga menggunakan warna emas atau kuning. Dipadukan dengan merah, sehingga sama-sama sebagai warna pembawa keberuntungan dalam hidup. Termasuk berkaitan dengan keceriaan.

Hanya saja, kuning kadang bisa digunakan untuk situasi berkabung, terutama bagi mereka yang menganut agama Buddha.

Penggunaan kedua warna itu dilandaskan pada keyakinan tentang lima elemen penting dalam kehidupan dan alam. Unsur air, api, kayu, logam, dan tanah. Mereka menggunakan kelimanya sebagai dasar menenguatkan warna tersebut.

Air adalah warna hitam, sehingga kurang cocok dengan merah sebagai perwakilan unsur api. Sementara kayu diwakilkan dengan hijau dan biru, logam lebih kepada putih atau perak. Adapun tanah disimbolkan dari warna emas atau kuning.