Makna Tradisi Membakar Rumah Arwah dari Kertas

2017-11-10 15:51:55
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : M Romy
Tradisi Membakar Rumah Arwah dari Kertas. (Istimewa)

TRADISI membakar rumah arwah dari kertas memiliki makna penghormatan anak kepada orangtua yang telah meninggal.

Ada yang berbeda di kediaman keluarga besar Hasan Andi Ng (Huang Han Siong), Jalan M. Kukuh, Paal Lima, Kota Baru Jambi pada kamis (9/11/2017) lalu. Mereka membakar rumah-rumahan “焼灵屋” yang terbuat dari kertas spesial yang didatangkan dari Tiongkok untuk dipersembahkan kepada ibunda tercinta, Ong Kim Tun (alm) sebagai bentuk penghormatan anak kepada orangtua.

Hasan Andi Ng mengatakan, tradisi membakar rumah-rumahan yang terbuat dari bambu, karton, kertas warna-warni dan pernak-pernik lukisan serta segala perlengkapan rumah tangga ini untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal arwah yang berada di alam baka.

“Tradisi ini sudah turun temurun dan akan tetap dipertahankan. Biasanya dilakukan setelah orangtua meninggal genap tiga tahun. Genap tiga tahun mama meninggal, maka kami sebagai keturunannya mengirimkan rumah-rumahan lengkap dengan isinya. Agar di sana mempunyai tempat tinggal yang layak seperti kita,” kata Hasan Andi Ng disela upacara sembahyang yang dipandu Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok.

Lim Tek Chong Taoshe, pembuat sekaligus pemandu upacara sembahyang pembakaran rumah arwah dari kertas mengatakan, tradisi ini masih bertahan di Tiongkok hingga saat ini. Tradisi ini sebagai bentuk bakti seorang anak kepada orangtuanya. Mereka mengirimkan rumah-rumahan dengan cara membakar berikut segala isi rumah. Di antaranya, perlengkapan dapur, perlengkapan ruang tamu, kamar tidur, mobil-mobilan dan uang-uangan.

“Manusia hidup di atas bumi memerlukan tempat tinggal yang layak, kebutuhan sehari-hari, seperti sandang, pangan, dan papan. Demikian juga arwah orang yang telah wafat. Di alam baka juga membutuhkan kehidupan seperti layaknya dimasa hidupnya,” kata Lim Tek Chong.

Menurut Lim Tek Chong, ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yakni kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua).

Kim cua digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa. Sedangkan, Gin Cua untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal.

“Dengan membakaw kertas emas dan perak, berarti mereka telah memberikan kepingan yang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka. Sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada Zaman Tiongkok kuno,” urainya.

Prosesi tradisi ini dimulai setelah semua bahan diletakkan di dalam rumah-rumahan. Setelah itu, anak laki-laki melakukan sembahyang dengan mengundang roh/arwah orangtua mereka untuk dapat menempati rumah-rumahan yang dibeli oleh anak-anak lekaki. Setelah itu, rumah-rumahan dibakar.

“Pesan moral yang tersirat dari tradisi pembakaran ini untuk berbakti dan setia kepada negeri kita tinggal, karena dalam membakar kertas emas maupun perak mengandung makna tanah melahirkan logam. Tanah itu adalah tempat dimana kita berpijak, tempat kita lahir dan tumbuh. Bagi yang beranggapan membakar uang kertas dalam jumlah besar dapat menyenangkan leluhur atau menunjukkan bakti, lebih baik tunjukkan rasa sayang Anda itu semasa leluhur anda masih di dunia,” tutup Lim Tek Chong.