Mengenal Tea Pai Dalam Budaya Tionghoa

Selasa, 13 Maret 2018 10:52:15
Editor : Fauzi Iyabu | Reporter : CHC Saputro
Ilustrasi Budaya Tea Pai. (Istimewa)

Dalam budaya Tionghoa, Tea Pai yang menjadi rangkaian dalam pernikahan adat Tionghoa bertujuan untuk menghormati orang yang lebih tua.

LAMPUNG – Tea Pai merupakan salah satu rangkaian acara yang sering diadakan dalam pernikahan adat Tionghoa (Chinese Wedding). Budaya Tionghoa ini bertujuan untuk menghormati orang yang lebih tua. Dalam beberapa kesempatan, tradisi penyuguhan teh di beberapa daerah sangatlah berbeda karena bisa tergantung dari kebiasaan suku dan adat tradisi masing-masing.

Menurut Dewan Pakar PSMTI Lampung Tresnowati Josiah, umumnya prosesi Tea Pai dilangsungkan pada pagi atau siang hari sebelum prosesi pemberkatan pernikahan di tempat ibadah, Pasalnya, lanjut,   Iwa TJ , panggilan karib perempuan yang juga dikenal sebagai komposer ini,  jika dilangsungkan pada malam hari, prosesi ini akan terkesan ‘dipaksakan’ atau bersifat ‘tidak penting’.  “Kesannya  hanya sekedar upacara seremonial belaka, sebagai ajang serah terima angpao, atau sebagai ajang foto. Padahal dalam prosesi Tea Pai ini tersimpan doa dan harapan orang tua agar kelak anak-anaknya bahagia,” papar Iwa TJ.

Lebih lanjut Dosen Universitas Saburai ini memaparkan, acara Tea Pai (Kong Cha atau morning ceremony) biasanya diikuti oleh keluarga kedua mempelai yang sudah menikah, seperti orang tua, paman/bibi, saudara kandung, sepupu dan keponakan (yang dituakan) atau setidaknya yang sudah pernah menikah; meski karena pasangannya sudah bercerai (menjadi janda/duda), meninggal atau sakit (sampai tidak bisa ikut acaranya; jadi yang bisa ikut, duduk sendirian).

“Kakak-kakak dari kedua keluarga mempelai yang belum menikah tidak diperbolehkan untuk mengikuti acara Tea Pai ini. Hal ini juga berlaku sama jika ada adik-adik dari keluarga mempelai yang sudah menikah, juga tidak diperbolehkan mengikuti prosesi Tea Pai,” jelasnya mengingatkan.

Dalam prosesi Tea Pai ini, lanjut Iwa TJ, sebagai urutan pertama, mempelai mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah duduk, berikan penghormatan dengan cara membungkukkan badan sambil mengepalkan kedua belah tangan. Perlu diingat, khusus untuk orang tua (papa mama) dan kakek nenek (apabila ada) sebaiknya di soja atau kui (berlutut).

Mungkin pada agama tertentu yang melarang umatnya untuk berlutut atau menyembah, dapat saja menggunakan cara berdiri sambil sedikit membungkuk badan, tapi kesan penghormatan kepada orang tua jauh berkurang, karena status/derajatnya seperti disamakan dengan paman/bibi, kakak dan saudara-saudara lainnya.

Selanjutnya, seseorang (yang telah ditunjuk sebelumnya; pengiring pengantin) membawakan nampan yang berisi dua buah cangkir kecil berisi teh kepada mempelai wanita, jika keluarga yang sedang dilayani adalah keluarga dari pihak wanita.

Kemudian barulah mempelai pria mengambil satu persatu cangkir dari nampan tersebut dan diberikan kepada keluarga sembari menyebutkan status orang tersebut, misalnya : Papa, Mama, dan seterusnya. Sebaliknya apabila yang dilayani adalah keluarga mempelai pria, maka yang menyuguhkan cangkir tersebut adalah mempelai wanita.

Selain itu, pada umumnya untuk posisi duduk, nenek, ibu, tante ada di kanan; sedangkan kakek, papa, paman di kiri. Hal ini sesuai prinsip Nan Zuo, Ni You (Pria di kiri, Wanita di kanan).

Setelah keluarga yang dilayani selesai meminum teh yang diberikan, mempelai pria mengambil kembali cangkir tersebut satu persatu. “Sebagai ucapan terima kasih keluarga terhadap pelayanan yang diberikan oleh kedua mempelai, biasanya keluarga memberikan bingkisan yang berupa uang di dalam angpao merah ataupun perhiasan.” imbuh Iwa TJ

Kalau keluarga yang dilayani memberikan hadiah angpao, tambah Iwa TJ, maka dapat langsung ditaruh di nampan atau di kantongi oleh mempelai pria, sedangkan apabila hadiah berupa kalung, cincin atau perhiasan sejenisnya, maka nampan tersebut dapat dikembalikan kepada orang yang telah ditunjuk sebelumnya lalu keluarga akan segera memasangkan perhiasan tersebut kepada mempelai.

Ia menambahkan, dalam budaya Tionghoa, untuk acara tertentu dalam Tea Pai, pengantin wanita biasanya memberikan satu set handuk (handuk badan dan handuk muka) kepada orang-orang yang telah disuguhkan teh sebagai ucapan terima kasih. “ Ini juga relatif artinga bisa iya bisa juga tidak,  sangat bergantung pada persiapan kesepakatan acara sebelumnya. Setelah selesai, anggota keluarga yang disuguhkan teh kembali di kursinya, dan kedua mempelai memberikan salam penghormatan kembali seperti diawal acara,” pungkasnya.