Pembakaran Replika Dewa Akhirat untuk Antar Arwah

2017-09-07 14:17:52
Editor : Azis Faradi | Reporter : Oktaviani
Replika Dewa Akhirat sebelum pembakaran. Tradisi yang dilakukan warga Tionghoa Bangka Tengah untuk antar arwah ke alamnya, setelah berkeliaran di dunia. (Oktaviani)

DALAM tradisi turun-temurun, warga Tionghoa melakukan pembakaran terhadap replika Dewa Akhirar. Sebagai sarana untuk antar arwah kembali ke alamnya.

Pada bulan ke-7 tahun Imlek, warga Tionghoa, khususnya pemeluk Konghucu, Tao dan Buddha, percaya pintu akhirat dibuka. Membuat arwah bergentayangan ke dunia, mengunjungi keluarga. Salah satu cara untuk antar arwah itu, melalui pembakaran replika Dewa Akhirat.

Kadang Dewa Akhirat dikenal dengan nama Thai Se Ja. Dipercaya sebagai penguasa di alam gaib, dengan pembakaran replika pada bulan ke-7, bisa membantu arwah untuk kembali ke alamnya. Puncak dari perayaan bulan ke-7 terjadi pada tanggal 15, tahun ini bertepatan dengan 5 September 2017.

Replika patung Thai Se Ja terbuat dari bambu, lalu dilapisi kertas. Tepat pada puncak perayaan chit ngiat pan atau cioko, dilakukan pembakaran. Sebelum itu, pembacaan doa dan berbagai ritual agama.

Kegiatan pembakaran replika dewa, juga dibarengi dengan miniatur miniatur rumah, pesawat, uang, dan lain-lain. Kegiatan seperti ini tak pernah luput dilakukan warga Tionghoa, terutama yang tinggal di wilayah Bangka Tengah.

Warga Tionghoa secara serentak menyelenggarakan cioko. Pembakaran replika Dewa Akhirat, hanya dilakukan di klenteng atau vihara, sedangkan sembahyang kepada arwah leluhur dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Aliong, pengurus Klenteng Sip Sam Fun, mengatakan, tradisi mengantar arwah itu sebagai bentuk bakti kepada leluhur. Dengan kembalinya para arwah itu, tak mengganggu aktivitas manusia sehari-hari.  

“Thai Se Ja mengatur pembagian makanan yang ada kepada para arwah. Di atasnya (Dewa Akhirat)  ada Dewi Kwan Im, mengontrol Sang Dewa. Kalau tidak ada yang mengatur para arwah bisa sembarangan (mengganggu),” tuturnya.