Penghormatan Para Leluhur Via Tradisi Bakar Replika Rumah Kertas

2018-01-02 10:56:49
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : M Romy
Tradisi bakar replika rumah kertas. (Istimewa)

TRADISI bakar replika rumah dari kertas merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. Atau memperingati tiga tahun kepergian seseorang menghadap Sang Penci

Kusnadi bersama keluarga besarnya menggelar sembahyang sekaligus mengirimkan replika rumah yang terbuat dari kertas untuk tiga tahun wafatnya orangtua tercinta. Tradisi bakar replika rumah kertas ini merupakan bentuk penghormatan para leluhur.

Tradisi ini merupakan kewajiban yang tidak bisa ditolak. Karena, melalui kegiatan ini dirinya dapat menunjukkan bakti, kesetiaan, kasih sayang dan penghormatan kepada orang yang dicintainya yang telah wafat.

Menurut Kusnadi didampingi Edy, Muliyono, dan Susanto mengatakan di Jambi tradisi bakar replika rumah dari kertas masih dijalankan hingga saat ini. “Bakar replika rumah kertas, masih dipegang erat masyarakat Tionghoa hingga sekarang. Karena, tradisi ini bentuk kebaktian seorang anak kepada orangtua. Mereka mengirimkan rumah-rumahan dengan cara membakar berikut segala isinya.”

Ritual kali ini dipimpin oleh The Lien Teng, rohaniawan Khonghucu dari MATAKIN Provinsi Jambi.

Banyak yang berkeyakinan, orang yang sudah meninggal juga membutuhkan rumah, kendaraan dan harta benda lainnya. Layaknya ketika masih hidup di muka bumi ini.

“Bahwa manusia hidup di atas bumi memerlukan tempat tinggal yang layak, kebutuhan sehari, seperti pangan, sandang, dan papan. Demikian juga arwah orang yang telah wafat di alam baka. Juga membutuhkan kehidupan seperti layaknya masa hidupnya.”

Bagi masyarakat Tionghoa, penghormatan kepada orangtua atau leluhur, baik yang masih hidup atau yang sudah wafat merupakan kebudayaan. Rumah-rumahan biasanya terbuat dari bambu, karton, dan kertas warna warni.

Ada dua jenis kertas yang digunakan untuk mendukung pembakaran rumah-rumahan, pertama kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (kim cua). Kedua, kertas yang bagian tengahnya berwarna silver (gin cua).

Kertas warna emas untuk dewa, sedangkan silver bagi arwah leluhur. Sebelum pembakaran rumah-rumahan, anak lain-laki dari almarhum akan melakukan sembahyang mengundang roh orangtua yang sudah meninggal.

Konon tradisi ‘Bakar replika rumah kertas ataupun uang kertas’ dimulai pada zaman pemerintah Kaisar Lie Sie Bien (Lie She Min) dari Kerajaan Tang di Tiongkok. Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana, sehingga beliau dicintai oleh rakyatnya.