Toko Merah, Bangunan Tua Peninggalan Etnis Tionghoa yang Terlupakan

Kamis, 21 Desember 2017 09:25:10
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Toko Merah, salah satu bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa yang terlupakan. (Oktaviani)

TOKO Merah dan Masjid Langgar Tinggi, dua bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa yang mulai terlupakan.

Jakarta memiliki banyak objek wisata yang memesona yang bisa dikunjungi. Salah satunya adalah bangunan tua bersejarah peninggalan etnis Tionghoa zaman dahulu. Sangat disayangkan, bangunan tersebut mulai terlupakan.

Hal inilah yang menjadi perhatian khusus Komunitas Kecapi Batara (Kelompok Pecinta dan Pemerhati Bangunan Tua Nusantara). Menurut Diyah Wara Restiyati, Ketua Komunitas Kecapi Batara, pihaknya banyak menemukan bangunan tua yang dilupakan oleh pemerintah.

“Padahal ada SKII Gubernur, jika Glodok menjadi area cagar budaya, tetapi pembangunan dan perubahan masih saja terjadi,” ujarnya saat hadir di acara Oendangan Perayaan Onde di Pantjoran Tea House beberapa waktu yang lalu, seperti dilansir Detiktravel.com.

Di daerah Pekojan misalnya, ada Masjid Langgar Tinggi yang merupakan saksi bisu dari toleransi antara orang Arab dan orang Tionghoa di masa lalu. Atau Toko Merah di kawasan Kota Tua. Walau sudah berstatus Bangunan Cagar Budaya, kondisinya masih ala kadarnya dan sangat memprihatinkan.

Ada lebih banyak lagi bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa yang seakan luput dari perhatian. Stereotip miring tentang orang Tionghoa seringkali membuat mereka termarginalkan, termasuk bangunan peninggalannya.

Untuk diketahui, Bangunan Cagar Budaya yang sudah terdaftar menjadi wewenang dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Sedangkan mayoritas dari bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa masih dimiliki perseorangan dan belum jadi Bangunan Cagar Budaya, padahal butuh dana yang tidak sedikit untuk merawatnya.

“Bangunan Tionghoa di Jakarta tidak ada yang dilestarikan oleh Pemerintah di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya. Aset dimiliki oleh perseorangan, ditanya ke BPCB mereka tak punya dana " cerita Diyah.

Kurangnya perhatian Pemerintah dan terbatasnya dana untuk perawatan gedung menjadi momok bagi banyak bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa di Jakarta. Padahal menurut Diyah, tidak sedikit orang Tionghoa pemilik bangunan tua yang masih peduli akan keberlangsungan sejarah.

Meski mengaku belum bisa menyebut angka pasti mengenai jumlah bangunan tua peninggalan Tionghoa di Jakarta, komunitas yang berdiri pada Maret 2013 ini aktif mencari dan mendokumetasikan bangunan tua peninggalan etnis Tionghoa. Selain mendata, mereka juga aktif melakukan revitalisasi dengan dana pribadi dan sponsor. Termasuk juga menggelar diskusi publik bersama para pelaku dan pemilik bangunan tua.