Tradisi Melarung Pelita Warga Pecinan Semarang

2017-09-22 13:59:52
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Ilustrasi tradisi melarung pelita warga Tionghoa di Semarang. (Istimewa)

TRADISI Melarung Pelita, rutin diadakan warga di Pecinan Semarang. Merawat budaya leluhur dan membantu orang yang kehilangan nyawa di air.

Diadakan oleh ratusan warga Tionghoa, terutama dari umat Tridharma di Pecinan Semarang, Jawa Tengah. Sebelum mengadakan tradisi Melarung Pelita atau Pang Tjie Ting, mereka mengadakan pelepasan hewan ke alam atau fangsheng, dan ritual king hoo ping atau ulambana.

Aman Gautama, Ketua Yayasan Tjie Lam Tjai, mengatakan, tradisi melarung pelita di Kali Semarang, berbentuk teratai. Sebelum menghanyutkan, umat melakukan sembahyang khusus. Pada tahun ini, dipimpin sembilan biksu dari Tiongkok.

“Maksud dari upacara ini untuk mendoakan arwah yang meninggal di air, seperti hanyut, bunuh diri di sungai atau laut, tercebur sumur, hingga tenggelam,” jelasnya belum lama ini.

Upacara, lanjutnya, dimulai dari halaman Rumah Abu Kong Tiek Soe, di Gang Lombok, Pecinan, Semarang.

Kegiatan melarung pelita, diadakan berbarengan dengan tradisi ulambana atau cioko. Setiap bulan ke-7 penanggalan Imlek. Selain melarung pelita, biasanya umat berebut sesaji, dan membakar replika.

“Ulambana ini bermakna membalas budi baik leluhur dengan mendoakan arwahnya, agar mendapatkan kelahiran kembali di alam yang lebih baik,” jelasnya.