Warak Ngendhok Representasi Perkawinan Budaya Tionghoa, Arab dan Jawa

2017-09-08 16:32:53
Editor : Azis Faradi | Reporter : CHC Saputro
Pertunjukan Warak Ngendhok, sebuah karya representasi perkawinan budaya Tionghoa, Arab dan Jawa di Semarang. (CHC Saputro)

SEBUAH replika patung bernama Warak Ngendhok. Dianggap sebagai representasi perkawinan budaya antara Tionghoa, Arab dan Jawa. Seperti apa?

Warak Ngendhok menjadi salah satu ikon Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah karya peninggalan leluhur, representasi perkawinan budaya Tionghoa dengan Arab dan Jawa. Ini juga menjadi penegasan tentang kehidupan harmonis di tengah masyarakat setempat.

Perpaduan tiga budaya dalam Warak Ngendhok telah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Penyerbukan silang budaya berjalan dengan sentuhan kearifan lokal yang kental. Warak Ngendhok juga membuat Semarang dikenal menjadi salah satu kota multietnis.

Warak Ngendhok adalah  makhluk mitologi yang kini jadi indentitas Semarang. Hingga kini tak ada yang tahu asal usul makhluk tersebut. Namun warga Semarang sangat mengenalnya. Sebuah makhluk imajnatif berwujud binatang dengan tiga bagian tubuh berbeda.

Bagian tubuh tersebut merepresentasikan tiga etnis besar yang hidup berdampingan di Kota Semarang yaitu Tionghoa, Arab, dan Jawa.

Untuk representasi Tionghoa diwujudkan lewat bentuk kepala Warak Ngendhog yang serupa dengan kepala naga barongsai. Di bagian lain, tubuhnya mirip buraq, hewan menyerupai kuda dalam kepercayaan Islam yang melambangkan etnis Arab.

Adapun perwakilan budaya Jawa melalui keempat kaki Warak Ngendhog yang mirip dengan milik kambing. Ciri yang khas dari Warak Ngendhog lehernya lurus. Bentuk ini mengandung filosofi yang mendalam.

Bahwa masyarakat Semarang merupakan orang-orang yang terbuka, lurus dan berbicara apa adanya. Dari segi bahasa, Warak Ngendhog berasal dari dua kata. Kata warak merupakan turunan dari kata warai yang berarti suci.

Sementara ngendhog artinya bertelur. Jika diartikan, Warak Ngendhog memiliki arti bahwa siapa yang menjaga kesucian atau kebaikan selama bulan suci maka akan mendapatkan pahala di hari lebaran.

Pertunjukan Warak Ngendhog hanya muncul satu kali dalam setahun, saat perayaan tradisi Dugderan. Tradisi Dugderan, setelah Idul Fitri, juga menjadi simbol persatuan dan kesatuan masyarakat lintas etnis di Semarang.